Senin, 26 Mei 2008

Purnama di ujung senja

Perempuan itu sangat mencintai purnama. Entah mengapa. Hatinya selalu saja terpenjara oleh kilauan bulat kuning berpendar itu. Bila langit cerah dan tak ada awan merintang, purnama selalu saja menjadi saat istimewa.

Ia tak tahu pasti, kapan mula ia menyukai bulan purnama. Mungkin sejak kepergian orang-orang terkasih dalam hidupnya, mungkin juga sebelum itu. Mungkin saat ia merasa tak memiliki siapa pun di dunia ini. Mungkin saat kesedihan dan kesendirian itu begitu mendera. Entahlah.

Memandang purnama selalu memberi warna tersendiri. Di mana ia bisa membayangkan bertemu dengan semua yang pernah merasa dimilikinya. Orang-orang yang ia sayangi dan amat menyayanginya. Orang-orang terkasih yang kini lenyap dari kehidupannya. Terengut oleh tangan perpisahan yang tak pernah dimengertinya. Yang tak jua dikehendakinya. Ada rasa perih yang selalu saja tersisa. Meski sekuat tenaga ia coba melupakan semua luka itu. Namun perih itu tetap tertinggal jauh di ulu hati. Entah sampai kapan.

Bagai bunga ilalang, ia terburai, terbang entah ke mana angin membawa. Jauh dari rona masa kecil, jauh dari orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Kadang ada rasa asing. Tapi ia selalu coba yakinkan, bahwa disinilah ia kini. Dikelilingi kebahagiaan baru, jiwa-jiwa baru dan semua yang awalnya terasa aneh. Tapi ia harus lalui, tak ada pilihan lain. Bukan, bukan karena tak ada pilihan lain. Tepatnya, karena ia telah memilih.

Perempuan itu telah memilih untuk melanjutkan hidupnya. Hanya ada dua pilihan, menyerah atau terus berjuang. Ia percaya tak ada kesempatan kedua. Dan menyerah bukanlah sifatnya. Di balik segala kelembutan dan kerapuhannya, sesungguhnya ia adalah perempuan yang tegar. Tak akan menyerah pada kerasnya kehidupan. Ia memilih untuk berjuang. Meski dengan hati hancur dan patah. Meski dengan kedua sayap yang terluka. Meski dengan asa yang porak poranda. Ia ingin lalui semuanya. Menikmati semua luka, sakit hati, perih jiwa, atau entah apa namanya. Terlalu banyak sesak yang coba tak dihiraukannya. Ia pun tak yakin akan mampu lalui semuanya. Ia tak yakin, sangat tak yakin. Karena saat itu hatinya begitu rapuh, begitu gamang.

Purnama telah menyelamatkan hati perempuan itu. Saat kecil dulu, sang ibu sering berpesan untuk melakukan puasa tiga hari pada pertengahan bulan. Kata ibu, itu puasa ayyaamul biidh. Allah akan menyayangi dan mengasihi orang-orang yang mau melaksanakannya. Setelah semua yang disayanginya pergi, kepada siapa lagi ia mengharap kasih sayang selain pada Allah?

Tak ada siapa-siapa lagi. Ia selalu sedih bila teringat ia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ayah, ibu, juga kekasih hati. Semua telah pergi dengan jalannya sendiri-sendiri. Yang tak bisa dipahaminya. Atau ia memang sengaja menutup hatinya untuk bisa memahami bahwa semua memang sudah seharusnya pergi. Sudah tiba waktunya untuk sendiri.
Jaga iman yang sedikit ini, ya Allah. Begitu pintanya selalu. Ia merasa ia bukanlah seorang hamba yang baik. Sholatnya belum sempurna, bacaan Al Qur’annya juga sangat jauh dari sempurna. Ia hanya bertekad menjadikan Allah sebagai sandaran hidupnya kini. Setelah semua luka dan perih jiwa. Setelah tak ada lagi yang tersisa. Semua yang disayangi dalam hidupnya akan pergi. Namun, kasih Allah akan abadi dan tak akan pernah membuat luka di hati.

Hanya Allahlah, satu-satunya tempat bersandar. Yang menemani kesendiriannya. Yang selalu mendengar semua kesahnya. Tempat di mana cairan bening itu bebas terurai. Saat beban berat menyesakkan itu mulai pelan-pelan terangkat. Saat sedikit demi sedikit keyakinan itu bersemi. Yakin bahwa ia tak sendirian menghadapi perih yang menghuni ulu hati.

Saat itulah ia mulai berkawan dengan purnama. Saat makan sahur, sering sinar purnama membias masuk lewat celah genting kaca rumahnya. Dalam kesendirian, purnama setia menemaninya. Menyinari lorong hatinya yang gelap, menghiburnya. Saat memandang purnama itulah ia merasa dirinya terbang, melayang. Dari atas ketinggian itu ia bisa melihat semuanya. Orang-orang terkasih yang dulu pernah hadir dalam hidupnya, yang kini entah dimana. Ia tersenyum dan membayangkan bahwa purnama telah membawanya pergi ke tempat-tempat yang kini tak bisa dikunjunginya. Tempat ia menghabiskan usia belia. Rona masa kecil yang indah. Kebahagiaan yang selalu membuatnya menangis.

Andai saja ia tak harus kehilangan pelabuhan jiwa itu. Andai saja sandaran hati itu tak pergi meninggalkannya. Andai saja belahan jiwa itu masih utuh dimilikinya, mungkin luka itu tak kan pernah menyapa hatinya. Menyisakan goresan perih yang sangat. Namun garis takdir telah berkata, tanpa bisa ditawar.

Ia ingin ikhlas lalui semuanya. Ia ingin. Ingin percaya bahwa semua pasti ada hikmahnya. Ia ingin. Ingin percaya bahwa itu adalah hal terbaik dalam hidupnya. Ia ingin. Ingin yakinkan bahwa semua bukan mimpi. Ia ingin. Inginnya ia. Sungguh ia ingin!

Tapi air mata itu tetap mengalir. Tapi tetap saja ia ingin semua itu hanya mimpi. Tapi tetap saja ia ingin mencari jawab dan penjelasan, mengapa? Ia tak tahu harus bertanya pada siapa. Ia hanya tahu, penjelasan apa pun tak ada arti lagi baginya. Tak akan mengembalikan pelabuhan jiwanya. Tak akan mengantarkan sandaran hatinya. Tak akan menghadirkan belahan jiwanya. Utuh kembali padanya, meski hanya sekejab.

Kehilangan itu begitu dalam. Ia tak ingin tenggelam. Allah, jagalah iman yang sedikit ini. Begitu selalu pintanya. Allahlah, Sang Pencipta purnama yang amat dicintainya itu. Sinarilah hati ini, seperti Kau buat terang malam-malam dengan cahaya purnama-Mu. Perempuan itu tergugu. Dalam sujud panjangnya.

Ia menikmati semua saat-saat sulit itu. Ia lakukan apa saja untuk tetap bertahan. Saat teman-temannya asyik belajar di perpustakaan, perempuan itu sibuk berkutat dengan setumpuk kain yang mesti dijahitnya. Atau tangannya yang kecil dengan terampil membuat kacang telor dan membungkusnya kecil-kecil. Lalu kacang telor yang sudah dikemas itu dimasukkan dalam toples dan ditaruh di kontrakan teman-temannya sesama mahasiswa sambil tak lupa ia menaruh kaleng kecil. Tak sampai satu pekan, kacang dalam toples akan habis dan kaleng kecil itu akan terisi rupiah. Allah selau memberi jalan dalam tiap langkahnya.

Bahkan saat itu, kain-kain yang dijahitnya menjadi busana muslim, selalu laku dan tak pernah ada yang kembali. Ia cukup membeli kain, memotong dan menjahitnya. Lalu menitipkannya di Bursa Kafilah, sebuah toko yang khusus menjual barang-barang berlabel Islam. Yang ada di samping masjid kampusnya. Kadang baju-baju yang sudah jadi itu dipasarkan oleh teman-temannya sesama mahasiswa. Dan untuk itu, ia akan memberikan komisi 15%. Semua dilakukan hanya atas dasar saling percaya.

Ketrampilan itu didapatkannya secara otodidak. Semua berawal dari hobi. Ia sangat menyukai dunia mode. Bahkan mesin jahit peninggalan neneknya itu masih terawat rapi sampai kini. Lewat mesin jahit itu pula semangat juangnya terpompa. Ia berjanji harus bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Meski ia harus bekerja lebih keras. Meski ia harus pandai-pandai memanfaatkan waktu yang tersisa untuk belajar. Ia hanya percaya, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang sangat memperhatikan hamba-hambaNya yang mau berusaha dan tidak bermalas-malasan. Menyerah sebelum berjuang. Ia percaya, rizki harus dijemput, diciptakan. Karena sesungguhnya rizki itu tersimpan di antara tetesan-tetesan keringat dan kerja keras. Keringat tak akan tercipta tanpa kerja keras. Kerja keras tak akan ada tanpa kemauan berusaha.

Dan disinilah ia kini. Di sebuah istana kecil dengan seorang belahan hati dan juga seorang malaikat kecil. Perempuan itu tersenyum penuh syukur. Direngkuhnya tubuh mungil itu dalam dekapannya. Ia sadar kini ia tengah menciptakan kenangan masa kecil pada sebentuk jiwa yang ada dalam genggamnya. Baginya, mengenang masa kecil adalah kebahagiaan yang selalu membuatnya mengangis. Ia tak ingin hal itu dialami oleh buah hatinya. Ia ingin memberikan kebahagiaan masa kecil yang lebih indah, lebih berwarna.

Tapi… duka akan membuatmu menjadi lebih dewasa, Nak. Luka akan mengajarimu banyak hal tentang kehidupan.

“Tetapi, mengapa Bunda menangis?” sebentuk mata bening polos memandangnya penuh tanya. “Bunda menangis karena Bunda bersyukur dapat memilikimu, Anakku. Do’akan Bunda diberi Allah kemampuan untuk memberikan yang terbaik untukmu,” bisik perempuan itu lirih.

Purnama tetap berjalan sesuai rencana. Perempuan itu tetap kerap memandang purnama, di ujung senja usianya. Ia tersenyum. Ia sadar kini ia tengah menciptakan kenangan masa kecil pada sebentuk jiwa bening yang ada dalam genggamnya. Baginya, mengenang masa kecil adalah kebahagiaan yang selalu membuatnya menangis. Ia tak ingin hal itu dialami oleh cucu pertamanya. Ia ingin memberikan kebahagiaan masa kecil yang lebih indah, lebih berwarna.

Tapi… duka akan membuatmu menjadi lebih dewasa, Nak. Luka akan mengajarimu banyak hal tentang kehidupan.

“Tetapi, mengapa Nenek menangis?” sebentuk mata bening polos memandangnya penuh tanya. “Nenek menangis karena Nenek bersyukur diberi kesempatan menimangmu, memandangmu, memelukmu, mencintaimu…”bisiknya lirih.

Perempuan itu tersenyum. Memandang purnama di ujung senja usianya. Tampak kerutan halus di kedua mata beningnya, menandakan ia telah banyak menelan asam garam kehidupan. Hidup, kadang tak ramah, tapi semua mesti dilalui, dan jangan pernah lari.

***

Kubaca sekali lagi tulisan yang terpampang di layar monitor. Akhirnya aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan untuk seseorang yang amat kucintai, mbah putri, tepat setahun setelah kepulangannya menghadap Ilahi Rabbi.

Aku tahu mbah putri telah mengalami banyak peristiwa dalam hidupnya. Mbah putri selalu memberi semangat dan mengajariku untuk tak mudah menyerah pada kerasnya kehidupan. Perempuan yang masih terlihat sehat di usia senja, yang tetap suka memandangi purnama itu telah pergi. Namun semua kenangan, semua cerita yang pernah dituturkannya padaku, cucunya, -saat kami sama-sama menikmati purnama- akan terus hidup dalam ingatanku.

Catatan : Cerpen di atas pernah dimuat di Majalah PARAS edisi Mei Tahun 2008