Kamis, 26 Juni 2008
Senin, 23 Juni 2008
Ketika Cinta Meninggalkanmu
Cinta. Hanya terdiri dari lima huruf, hanya terdiri dari dua suku kata. Kabarnya, cinta itu indah. Cinta yang membuat banyak orang tertawa. Cinta jua yang telah membuat banyak orang menangis. Cinta telah membuat orang bertahan. Tapi cinta juga yang membuat orang menyerah. Cinta juga yang telah membawaku ke gedung ini. Mendengarkan pembacaan keputusan hakim yang -entah- kunantikan atau kutakutkan. Meski sudah berusaha keras untuk menguatkan perasaan, jiwaku tercabik juga saat hakim membacakan putusan dan mengetuk palu. Tanda bahwa mulai detik itu kumasuki awal perjalanan hidup, kubuka lembaran baru. Aku telah menjadi seorang janda! Sebuah status yang mungkin tak seorang pun menginginkannya.
Kupandang sekali lagi gedung itu, sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya. Akhirnya semua selesai sudah di sini. Ada beban berat yang pelan-pelan terangkat. Seiring segumpal rasa bersalah pada anak-anak. "Maafkan, bila akhirnya Bunda benar-benar memisahkan kalian dari ayah, Sayang..." bisik hatiku. Mataku panas, tapi air mata ini telah kering.
Aku hampir tak percaya. Dua jiwa yang dulu saling mencintai, kini saling membenci. Dua hati yang dulu mengikat janji, setia sehidup semati, kini pulang sendiri-sendiri. Tak ada lagi elusan lembut, senyum hangat atau sekedar sapa yang sejukkan jiwa. Begitu sidang usai, suamiku -lebih tepatnya mantan suami- langsung tergesa masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja. Aku mencoba berbesar hati dengan sikapnya. Suamiku mungkin masih marah dan tak menginginkan perpisahan ini, tepatnya mungkin tak sanggup berpisah dengan anak-anak. Tapi keputusanku sudah bulat. Inilah hidupku. Aku hanyalah wanita biasa. Aku bukan Aisha yang mengijinkan Fahri -suaminya- menikahi Maria dalam Ayat-ayat Cinta. Pun aku bukan Humaera yang memaksa Attar menikahi May, dalam Munajah Cinta. Semua hanyalah cerita dongeng. Aku hidup dalam kenyataan. Dan tak ada kenyataan seindah dongeng.
Katanya perempuan memiliki perasaan yang lembut dan insting yang kuat. Tapi kemana perginya perasaan itu, ketika kujumpai suatu hari suamiku begitu wangi dan berseri-seri? Aku justru bangga karena suamiku betah di kantornya yang baru dan menyukai pekerjaannya. Karena aku paling sedih bila suamiku mengeluh stress dengan pekerjannnya. Jadi selama pindah ke kantor yang baru, sungguh aku tak punya perasaan apa-apa melihat suamiku tiap hari semangat berangkat kerja dan mendapat posisi yang bagus. Dia memang jadi lebih sering pulang malam, lembur, begitu alasannya selalu, dengan lembut dan makin memanjakanku. Juga limpahan materi menandakan ia memang benar-benar bekerja keras mencari nafkah buat kami sekeluarga. Sungguh aku tak pernah curiga.
Ketika kudengar desas desus bahwa suamiku ada affair dengan salah seorang atasannya, kuanggap itu hanya isu yang dihembuskan oleh orang yang tak suka dengan kebahagiaan keluarga kecil kami. Aku tahu, suamiku memang cerdas dan tekun, jadi wajar kalau dia disukai atasan dan mendapat peran yang penting. Karena sejak suamiku bergabung, perusahaan itu semakin berkembang dan maju.
Tapi sepandai-pandai tupai meloncat, ia akan jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akan tercium juga. Awalnya adalah saat suamiku dipindahtugaskan ke luar kota. "Bunda dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta saja, toh Ayah pergi tak lama. Setiap Sabtu dan Minggu Ayah akan pulang ke Jakarta. Naik pesawat hanya satu jam kan..." begitu kata suamiku saat akan berangkat. Pun saat aku merasa kerepotan mengurus anak-anak sendiri, suamiku dengan lembut kembali berkata bijak,"Kasihan si Mas kalau harus pindah sekolah, menyesuaikan dengan lingkungan yang baru. Dan kita juga bisa berhemat. Ayah bisa kos saja, tapi kalau kita sekeluarga pindah, paling tidak kita kan harus mengontrak rumah," begitu alasan suamiku. Dan aku hanya bisa menurut karena alasannya memang cukup masuk akal. Kami masih memerlukan biaya yang besar untuk pendidikan dua buah hati kami. Jadi menurut suamiku, aku dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta, sementara suamiku menjadi suami mingguan, yang artinya seminggu sekali kami bertemu.
Tidak ada masalah yang cukup berarti, semua dapat berjalan lancar sesuai rencana. Jika awalnya aku masih sering melamun dan merindukan kehadiran suamiku, lama-lama aku terbiasa. Jika sebelumnya aku adalah ibu rumah tangga yang amat tergantung pada suami, lama-lama aku terbiasa mandiri dan memutuskan segalanya sendiri. Bahkan aku pun nekat belajar naik motor dan menyetir mobil, meskipun dengan perasaan takut yang amat. Dua kali aku terjatuh saat belajar naik motor dan cukup meninggalkan luka di lutut. Ketika suamiku pulang dan mengetahui hal itu, ia terlihat sangat khawatir. Dan aku merasa sangat bersyukur mempunyai suami sebaik dia. Untuk menjaga keselamatanku, suamiku menyarankan agar aku mengambil kursus setir mobil. Awalnya aku menolak. Hanya ada satu alasan, aku takut menabrak seseorang. Aku malas berurusan dengan polisi dan merasa tak tega bila harus menabrak seseorang.
Mendengar alasanku itu, suamiku hanya tersenyum bijak. Seperti biasa ia memberiku masukan panjang lebar. "Bunda harus yakin semua akan baik-baik saja. Agar tidak merugikan orang lain, Bunda harus canggih dulu menyetir, makanya ikut kursus setir mobil. kalau sudah pandai, baru turun ke jalan. Yang penting pembiasaan. Ayah percaya Bunda pasti bisa," begitulah suamiku, selalu memberiku semangat dan dorongan. Hingga akhirnya, msti dengan menahan ketakutan yang sangat, aku mulai mendaftar kurus menyetir di dekat sekolah anakku. Awalnya aku menyetir sangat perlahan dan banyak mobil di belakangku yang mungkin karena tidak sabar, membunyikan klakson berkali-kali. Aku langsung gugup, tapi instrukturku menyuruh untuk tetap tenang dan tidak perlu dihiraukan. Yang penting kita tetap berjalan pada jalur yang benar, demikian katanya. Begitulah, akhirnya dalam beberapa pekan aku mahir menyetir mobil sendiri sehingga tak lagi tergantung pada sopir. Diam-diam aku menikmati kemandirianku. Aku menikmati kesendirianku. Waktu luangku cukup banyak. hanya di akhir pekan aku benar-benar tak punya waktu luang karena ada suami di rumah. tapi aku tetap dapat menikmati saat-saat itu.
Hingga pada suatu hari, suamiku menelpon tak bisa pulang tiap minggu. Karena kantornya sedang menghadapi masalah, jadi tunjangan untuk pegawai mengalami pemangkasan di sana-sini. Masih menurut cerita suamiku, banyak karyawan yang mengalami phk. Kami bersyukur karena suamiku masih dipertahankan, dalam arti tidak di-phk tapi mengalami pemangkasan tunjangan di sana-sini. Dan seperti biasa, aku tak keberatan bila jadwal pulang suamiku menjadi dua minggu sekali, bahkan kadang tiga minggu sekali hingga sampai akhirnya sebulan sekali. Saat itu aku merasakan ada perubahan pada sikap suamiku. Suamiku tak lagi sehangat dan secerah dulu. Mungkin karena kantornya sedang ada masalah, demikian pikirku. Setiap pulang, ia lebih banyak diam. Aku tahu betul sifat suamiku, kalau sudah diam jangan ditanya macam-macam, bisa marah dia. Jadi aku hanya menunggu suamiku menceritakan apa yang menganggu pikirannya. Biasanya ia akan kembali bersikap biasa bila masalahnya sudah terseleesaikan. Aku menganggapnya sebagai bagian dari ego laki-laki yang harus dihormati. Mungkin ia tak ingin kelihatan lemah karena sedang ada masalah. Jadi yang bisa aku lakukan bila suamiku pulang dalam keadaan diam hanyalah menunggunya. Menunggunya bicara dan mengerem keinginanku untuk menceritakan masalah yang aku hadapi selama dia tak ada di rumah.
Tak jarang suamiku pulang dengan wajah ceria. Sikapnya sangat lembut dan memanjakan aku dan anak-anak. Berbagai hadiah bagus ia bawa. Pun pada ulang tahun pernikahan kami kemarin, suamiku tampak begitu mesra dan romantis. Sama anak-anak juga begitu. Suamiku sangat sabar meladeni kerewelan dua jagoan kecil kami. Menemani berenang seharian dilanjutkan outbond. Saat itu aku merasa sangat bersyukur. Untuk seorang suami yang baik dan ayah yang sempurna.
Aku sama sekali tak berpikir bahwa begitulah cara laki-laku menutupi rasa bersalahnya. Memanjakan dan mencurahkan segala perhatiannya pada istri dan anak-anaknya. Ketika semua terkuak, aku sungguh syock. Aku mencoba untuk menerimanya dan berharap ia bisa kembali, ke tengah-tengah keluarga kecil kami. Tapi semua sudah terlambat. Aku harus mampu menerima kenyataan ini. Aku akan tetap membawa anak-anak terbang tinggi, meski hanya dengan satu sayap.
"Aku sangat mencintaimu, Shania. Kau adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai, sepenuh hatiku. Hanya kaulah satu-satunya perempuan dalam hidupku, ibu anak-anakku..."
Masih terngiang kata-kata suamiku. Dulu aku tak percaya dan menganggap ia hanya gombal. Tapi sekarang aku percaya. Mungkin ia benar, hanya aku, satu-satunya perempuan, yang mengisi hidupnya. Ketika akhirnya aku tahu bahwa suamiku ternyata seorang gay.
Atasannya di kantor adalah mantan pacar gay suamiku dulu. Hubungan keduanya sempat terputus karena pacar gay suamiku pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah. Saat itulah suamiku bertemu denganku yang saat itu aku juga sedang patah hati. Akhirnya karena merasa cocok dan mempunyai teman bicara, kami menjadi dekat dan akhirnya menikah. Suamiku tak pernah menceritakan masa lalunya itu dan aku pun tak pernah mengoreknya. Bagiku tiap orang mempunyai rahasia masa lalu, begitu juga aku. Jadi aku berusaha menerima suamiku apa adanya, pun lengkap dengan semua cerita masa lalunya. Kami sepakat menutup masa lalu itu dan membuka lembaran baru sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai.
Satu hal yang dulu tak kupahami, masa lalu ternyata bisa mengajak seseorang kembali untuk memasukinya. Dan ketika hal itu menimpa suamiku, tanganku, cintaku dan cinta anak-anak ternyata tak mampu mencegahnya untuk tetap berpijak pada kenyataan masa kini. Suamiku telah kembali pada cinta masa lalunya. Dan aku, harus tetap bertahan merajut masa depan bersama anak-anak...
Kupandang sekali lagi gedung itu, sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya. Akhirnya semua selesai sudah di sini. Ada beban berat yang pelan-pelan terangkat. Seiring segumpal rasa bersalah pada anak-anak. "Maafkan, bila akhirnya Bunda benar-benar memisahkan kalian dari ayah, Sayang..." bisik hatiku. Mataku panas, tapi air mata ini telah kering.
Aku hampir tak percaya. Dua jiwa yang dulu saling mencintai, kini saling membenci. Dua hati yang dulu mengikat janji, setia sehidup semati, kini pulang sendiri-sendiri. Tak ada lagi elusan lembut, senyum hangat atau sekedar sapa yang sejukkan jiwa. Begitu sidang usai, suamiku -lebih tepatnya mantan suami- langsung tergesa masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja. Aku mencoba berbesar hati dengan sikapnya. Suamiku mungkin masih marah dan tak menginginkan perpisahan ini, tepatnya mungkin tak sanggup berpisah dengan anak-anak. Tapi keputusanku sudah bulat. Inilah hidupku. Aku hanyalah wanita biasa. Aku bukan Aisha yang mengijinkan Fahri -suaminya- menikahi Maria dalam Ayat-ayat Cinta. Pun aku bukan Humaera yang memaksa Attar menikahi May, dalam Munajah Cinta. Semua hanyalah cerita dongeng. Aku hidup dalam kenyataan. Dan tak ada kenyataan seindah dongeng.
Katanya perempuan memiliki perasaan yang lembut dan insting yang kuat. Tapi kemana perginya perasaan itu, ketika kujumpai suatu hari suamiku begitu wangi dan berseri-seri? Aku justru bangga karena suamiku betah di kantornya yang baru dan menyukai pekerjaannya. Karena aku paling sedih bila suamiku mengeluh stress dengan pekerjannnya. Jadi selama pindah ke kantor yang baru, sungguh aku tak punya perasaan apa-apa melihat suamiku tiap hari semangat berangkat kerja dan mendapat posisi yang bagus. Dia memang jadi lebih sering pulang malam, lembur, begitu alasannya selalu, dengan lembut dan makin memanjakanku. Juga limpahan materi menandakan ia memang benar-benar bekerja keras mencari nafkah buat kami sekeluarga. Sungguh aku tak pernah curiga.
Ketika kudengar desas desus bahwa suamiku ada affair dengan salah seorang atasannya, kuanggap itu hanya isu yang dihembuskan oleh orang yang tak suka dengan kebahagiaan keluarga kecil kami. Aku tahu, suamiku memang cerdas dan tekun, jadi wajar kalau dia disukai atasan dan mendapat peran yang penting. Karena sejak suamiku bergabung, perusahaan itu semakin berkembang dan maju.
Tapi sepandai-pandai tupai meloncat, ia akan jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akan tercium juga. Awalnya adalah saat suamiku dipindahtugaskan ke luar kota. "Bunda dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta saja, toh Ayah pergi tak lama. Setiap Sabtu dan Minggu Ayah akan pulang ke Jakarta. Naik pesawat hanya satu jam kan..." begitu kata suamiku saat akan berangkat. Pun saat aku merasa kerepotan mengurus anak-anak sendiri, suamiku dengan lembut kembali berkata bijak,"Kasihan si Mas kalau harus pindah sekolah, menyesuaikan dengan lingkungan yang baru. Dan kita juga bisa berhemat. Ayah bisa kos saja, tapi kalau kita sekeluarga pindah, paling tidak kita kan harus mengontrak rumah," begitu alasan suamiku. Dan aku hanya bisa menurut karena alasannya memang cukup masuk akal. Kami masih memerlukan biaya yang besar untuk pendidikan dua buah hati kami. Jadi menurut suamiku, aku dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta, sementara suamiku menjadi suami mingguan, yang artinya seminggu sekali kami bertemu.
Tidak ada masalah yang cukup berarti, semua dapat berjalan lancar sesuai rencana. Jika awalnya aku masih sering melamun dan merindukan kehadiran suamiku, lama-lama aku terbiasa. Jika sebelumnya aku adalah ibu rumah tangga yang amat tergantung pada suami, lama-lama aku terbiasa mandiri dan memutuskan segalanya sendiri. Bahkan aku pun nekat belajar naik motor dan menyetir mobil, meskipun dengan perasaan takut yang amat. Dua kali aku terjatuh saat belajar naik motor dan cukup meninggalkan luka di lutut. Ketika suamiku pulang dan mengetahui hal itu, ia terlihat sangat khawatir. Dan aku merasa sangat bersyukur mempunyai suami sebaik dia. Untuk menjaga keselamatanku, suamiku menyarankan agar aku mengambil kursus setir mobil. Awalnya aku menolak. Hanya ada satu alasan, aku takut menabrak seseorang. Aku malas berurusan dengan polisi dan merasa tak tega bila harus menabrak seseorang.
Mendengar alasanku itu, suamiku hanya tersenyum bijak. Seperti biasa ia memberiku masukan panjang lebar. "Bunda harus yakin semua akan baik-baik saja. Agar tidak merugikan orang lain, Bunda harus canggih dulu menyetir, makanya ikut kursus setir mobil. kalau sudah pandai, baru turun ke jalan. Yang penting pembiasaan. Ayah percaya Bunda pasti bisa," begitulah suamiku, selalu memberiku semangat dan dorongan. Hingga akhirnya, msti dengan menahan ketakutan yang sangat, aku mulai mendaftar kurus menyetir di dekat sekolah anakku. Awalnya aku menyetir sangat perlahan dan banyak mobil di belakangku yang mungkin karena tidak sabar, membunyikan klakson berkali-kali. Aku langsung gugup, tapi instrukturku menyuruh untuk tetap tenang dan tidak perlu dihiraukan. Yang penting kita tetap berjalan pada jalur yang benar, demikian katanya. Begitulah, akhirnya dalam beberapa pekan aku mahir menyetir mobil sendiri sehingga tak lagi tergantung pada sopir. Diam-diam aku menikmati kemandirianku. Aku menikmati kesendirianku. Waktu luangku cukup banyak. hanya di akhir pekan aku benar-benar tak punya waktu luang karena ada suami di rumah. tapi aku tetap dapat menikmati saat-saat itu.
Hingga pada suatu hari, suamiku menelpon tak bisa pulang tiap minggu. Karena kantornya sedang menghadapi masalah, jadi tunjangan untuk pegawai mengalami pemangkasan di sana-sini. Masih menurut cerita suamiku, banyak karyawan yang mengalami phk. Kami bersyukur karena suamiku masih dipertahankan, dalam arti tidak di-phk tapi mengalami pemangkasan tunjangan di sana-sini. Dan seperti biasa, aku tak keberatan bila jadwal pulang suamiku menjadi dua minggu sekali, bahkan kadang tiga minggu sekali hingga sampai akhirnya sebulan sekali. Saat itu aku merasakan ada perubahan pada sikap suamiku. Suamiku tak lagi sehangat dan secerah dulu. Mungkin karena kantornya sedang ada masalah, demikian pikirku. Setiap pulang, ia lebih banyak diam. Aku tahu betul sifat suamiku, kalau sudah diam jangan ditanya macam-macam, bisa marah dia. Jadi aku hanya menunggu suamiku menceritakan apa yang menganggu pikirannya. Biasanya ia akan kembali bersikap biasa bila masalahnya sudah terseleesaikan. Aku menganggapnya sebagai bagian dari ego laki-laki yang harus dihormati. Mungkin ia tak ingin kelihatan lemah karena sedang ada masalah. Jadi yang bisa aku lakukan bila suamiku pulang dalam keadaan diam hanyalah menunggunya. Menunggunya bicara dan mengerem keinginanku untuk menceritakan masalah yang aku hadapi selama dia tak ada di rumah.
Tak jarang suamiku pulang dengan wajah ceria. Sikapnya sangat lembut dan memanjakan aku dan anak-anak. Berbagai hadiah bagus ia bawa. Pun pada ulang tahun pernikahan kami kemarin, suamiku tampak begitu mesra dan romantis. Sama anak-anak juga begitu. Suamiku sangat sabar meladeni kerewelan dua jagoan kecil kami. Menemani berenang seharian dilanjutkan outbond. Saat itu aku merasa sangat bersyukur. Untuk seorang suami yang baik dan ayah yang sempurna.
Aku sama sekali tak berpikir bahwa begitulah cara laki-laku menutupi rasa bersalahnya. Memanjakan dan mencurahkan segala perhatiannya pada istri dan anak-anaknya. Ketika semua terkuak, aku sungguh syock. Aku mencoba untuk menerimanya dan berharap ia bisa kembali, ke tengah-tengah keluarga kecil kami. Tapi semua sudah terlambat. Aku harus mampu menerima kenyataan ini. Aku akan tetap membawa anak-anak terbang tinggi, meski hanya dengan satu sayap.
"Aku sangat mencintaimu, Shania. Kau adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai, sepenuh hatiku. Hanya kaulah satu-satunya perempuan dalam hidupku, ibu anak-anakku..."
Masih terngiang kata-kata suamiku. Dulu aku tak percaya dan menganggap ia hanya gombal. Tapi sekarang aku percaya. Mungkin ia benar, hanya aku, satu-satunya perempuan, yang mengisi hidupnya. Ketika akhirnya aku tahu bahwa suamiku ternyata seorang gay.
Atasannya di kantor adalah mantan pacar gay suamiku dulu. Hubungan keduanya sempat terputus karena pacar gay suamiku pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah. Saat itulah suamiku bertemu denganku yang saat itu aku juga sedang patah hati. Akhirnya karena merasa cocok dan mempunyai teman bicara, kami menjadi dekat dan akhirnya menikah. Suamiku tak pernah menceritakan masa lalunya itu dan aku pun tak pernah mengoreknya. Bagiku tiap orang mempunyai rahasia masa lalu, begitu juga aku. Jadi aku berusaha menerima suamiku apa adanya, pun lengkap dengan semua cerita masa lalunya. Kami sepakat menutup masa lalu itu dan membuka lembaran baru sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai.
Satu hal yang dulu tak kupahami, masa lalu ternyata bisa mengajak seseorang kembali untuk memasukinya. Dan ketika hal itu menimpa suamiku, tanganku, cintaku dan cinta anak-anak ternyata tak mampu mencegahnya untuk tetap berpijak pada kenyataan masa kini. Suamiku telah kembali pada cinta masa lalunya. Dan aku, harus tetap bertahan merajut masa depan bersama anak-anak...
Langganan:
Komentar (Atom)