Selasa, 30 Desember 2008

SAHABAT

Orang yang benar-benar mencintai kita, sesungguhnya tak pernah meninggalkan kita. Ia akan hadir dan kita pun akan merasakan kehadirannya. Di hati kita.

Salah satunya, ia adalah sahabat kita. Aku pernah punya seorang sahabat. Tepatnya sahabat kecil. Karena ia menemaniku sejak kecil. Masa kecil yang indah, aku lewati bersama sahabat kecilku ini. Masa yang berlalu, segala suka dan duka kami lewati bersama. Sampai suatu ketika aku menyadari ada sebuah perasaan yang sulit kuungkapkan. Sebenarnya perasaan ini sudah kurasakan sejak awal aku mengenalnya, tapi aku selalu ragu dengan perasaan ini dan kucoba untuk mengingkari dan menghilangkannya. Dia sahabatku dan kupikir sebuah persahabatan harus tulus, tak boleh dicemari dengan keinginan dan perasaan yang lain, kecuali perasaan sayang sebagai seorang sahabat. Tapi ternyata perasaan itu sangat sulit kuhilangkan. Dadaku sering terasa nyeri dan sakit. Apalagi aku melihat banyak teman perempuan yang menyukai sahabatku ini. Wajar kurasa, karena dia memang pintar, penampilannya menarik dan baik hati. Jadi tak aneh kalau banyak gadis yang menyukainya. Sementara aku hanya bisa menahan perasaanku, aku cukup memposisikan diri sebagai seorang sahabat yang baik.

Sampai suatu ketika, sahabatku ini mengirimi aku sebuah surat yang menyatakan bahwa dia mencintaiku. Hatiku senang dan berbunga. Tapi tanpa kusadari, aku tak pernah membalas suratnya itu. Aku tak pernah menyatakan apa yang ada di hatiku. Saat itu kupikir pastilah dia tahu isi hatiku. Ternyata aku salah. Tahun berlalu dan ketika kuliah kami terpisah oleh kesibukan masing-masing, meski kami kuliah di kota yang sama. Aku kehilangan kontak dengan sahabatku ini. Sampai suatu saat kudengar ia sudah menikah dengan seseorang. Entah mengapa, perasaanku saat itu biasa saja dan ada keyakinan di hatiku bahwa berita itu pastilah salah. Oh, betapa percaya dirinya aku saat itu. Lama-kelamaan berita menikahnya sahabatku ini makin santer. Setiap aku bertemu dengan teman SMA, pasti menanyakan kabar pernikahan sahabatku ini. Tapi entah mengapa, perasaanku saat itu biasa-biasa saja, aku begitu mempercayai sahabatku ini. Bahwa ia hanya mencintaiku, begitu sebaliknya aku amat menyayanginya. Aku setia padanya, kupikir bila kita bisa menjaga kesetiaan, maka hal yang sama akan kita dapatkan. Jadi tak ada artinya kabar itu bagiku.

Sampai suatu ketika, aku pulang saat liburan semester. Dan kejelasan itu terpampang di depan mata. Sahabatku telah menikah. Kenyataan itu begitu berat kuterima. Alangkah kejamnya nasib tak berpihak padaku. Untuk sementara aku tak bisa menerima apa yang terjadi, berharap semua hanya mimpi, meski kutahu sia-sia. Untuk beberapa saat aku terpuruk, perasaan tercampak, terbuang, tersia-siakan. Bukan pilihan. Nyeri itu begitu dalam menghujam ulu hati. Alangkah tega dia berbuat demikian, apa salahku? Mengapa? Beribu tanya tanpa jawab. Untuk sekian lama aku menghayati semua sakit, hatiku patah, jiwaku terluka, pikirku tak bisa menerima. Aku coba menenangkan diri dan coba menghibur diri. Melarikan semua luka dan sakit hati. Hidupku harus terus berlanjut. Oh, inikah rasanya dikhianati? Aku tersenyum dalam pedih.

Ajaib, aku memaafkannya saat itu juga. Aku menulis dan menulis, sebuah tulisan untuk menyembuhkan hatiku. Bahwa cinta sejati tak pernah melukai. Bahwa mencintai dengan tulus berarti ikut bahagia bila yang dicintainya itu bahagia. Bahwa cinta sejati hanya kenal memberi, dan tak harus memiliki. Aku berusaha untuk ikhlas dan ikut bahagia dengan pilihan sahabatku ini. Aku bahagia bila dia bahagia. Jadi untuk apa aku menangis? Bukankah sekarang ia sedang bahagia? Jadi aku juga harus bahagia. Maka sibuklah aku menyembunyikan segala kepedihan. Menutupinya dengan senyum ceria. Meski di sisi hatiku yang lain, tetap saja menyisakan beribu tanya. Sempat aku bertanya, apa artinya selembar surat nikah dengan berlembar-lembar hari yang telah kami lalui bersama? Atau, ada keinginan untuk merawat bayi mungil itu dengan kasih sayang, aku bisa mencintainya dan memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan. Jika saja anak itu tak diinginkan, aku mau merawatnya. Karena ia anak yang tak bersalah. Itulah yang ada di pikiranku saat itu. Aku hanya berpikir apa yang bisa kulakukan untuk sahabatku ini. Saat itu aku hanya berpikir, ok, aku telah kehilangan seorang kekasih hati, tapi aku tak mau kehilangan seorang sahabat. Bagaimanapun, ia tetap sahabatku, tak peduli apa yang telah ia lakukan dan perbuat, tak peduli bahwa ia telah melukai hatiku, tapi bagaimana pun, ia tetaplah sahabatku. Aku percaya, waktu akan menyembuhkan hatiku. Saat itu juga aku bertekat untuk keluar dari kehidupannya, aku tak akan memasuki kehidupan yang telah ia pilih dan akan membenahi hidupku sendiri. Aku ingin melupakannya, aku tak ingin bertemu dengannya, selamanya dalam sisa hidupku. Itu keinginanku.

Dengan pikiran seperti itu, perlahan-lahan aku bisa menyembuhkan diri. Didukung oleh lingkungan yang kondusif dan teman-teman yang kucintai dan mencintaiku. Tiga tahun kemudian, datang seseorang yang -mungkin- sudah Allah siapkan untukku. Akhirnya aku menikah. Allah telah menggantinya dengan orang yang tepat. Kini sudah belasan tahun usia pernikahan kami. Singkatnya, kini aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang.

*sumber : curhat seorang sahabat*