Maafkan aku
yang tak pernah bisa mengerti hatimu
dulu dan kini
Maafkan aku
yang taj pernah bisa yakinkan hatiku
bahwa cinta itu tak pernah ada
Cinta dan kesetiaan bagaikan satu keping koin
yang menyatu dan tak terpisahkan
satu keping bernama cinta
dan keping baliknya bernama kesetiaan
jika keping cinta tak memiliki kesetiaan
maka dia bukan cinta
Cinta harus memiliki
jika tak bisa memiliki
maka tak boleh ada cinta
karena pasti hanya akan meninggalkan luka
Pagi itu...
Aku menemukan sekeranjang edelweis di lemariku
masih tersimpan rapi
seperti puluhan tahn yang lalu
ah... biarlah ia tetap tersimpan di lemari itu
dan bukan dihatiku
Kutemukan juga surat-suratmu...
kubaca lagi, ketersenyum dan menderai lagi...
rasa itu kembali hadir menghangatkan hati
kucoba maknai...
Ah...
bagaimanapun ia pernah menjadi bagian dari diriku di masa lalu
pernah mewarnai hidupku
Jadi...
terima kasih untuk semuanya
untuk "sahabat" yang "pernah" menyayangiku dengan tulus
Yang telah membuatku belajar tentang cinta
tentang luka
tentang perpisahan
tentang kerinduan
tentang kepasrahan
perihnya ditinggalkan
Aku belajar...
belajar menata hati yang terluka
belajar terbang tinggi
dengan sayap sebelah yang telah kau bawa pergi...
Aku belajar tentang sakit hati
belajar memaafkan
belajar mengusir sesah di hati
belajar mengehentikan derai yang menggerimis
belajar yakinkan bahwa semua bukan mimpi
belajar menerima kenyataan yang maha berat
belajar untuk tidak jatuh
untuk tidak terlalu lama terpuruk
Kekejamanmu sungguh sempurna...!!!!
Pagi itu....
aku juga menemukan catatan hatiku dalam sebuah diary yg sungguh sederhana
bibirku tersenyum dan mataku menderai gerimis
mengenang semuanya
dalam diary itu tertulis...
Aku tak akan pernah bisa membencimu
Dan kini aku sudah menepatinya
Aku harus tegar dan bisa menjalani takdirku dengan lapang
Dan aku berusaha menepatinya
Aku harus selalu menebar cinta dan kebahagiaan utk sekelilingku
dan aku belajar untuk menepatinya
Aku harus bangkit dan bisa membanggakan kedua orang tuaku
sekuat tenaga aku berusaha menepatinya
Aku akan menemukan cinta sejatiku
dan aku sudah menemukannya :)
Aku akan mempunya keluarga kecil yang bahagia, saling menyayangi, anak-anak yang sholeh yang mjd qurrota'aini
dan kini Allah sudah memberikannya....
^_^
Rabu, 05 September 2012
Rabu, 21 Desember 2011
Suatu Pagi
suatu pagi
aku memberikan hatiku padamu
tanpa kusadari
itulah kesalahan terbesar
yang pernah kulakukan
karena kau segera membawa hatiku pergi
dan tak pernah kembali
hingga kini
aku memberikan hatiku padamu
tanpa kusadari
itulah kesalahan terbesar
yang pernah kulakukan
karena kau segera membawa hatiku pergi
dan tak pernah kembali
hingga kini
Selasa, 30 Desember 2008
SAHABAT
Orang yang benar-benar mencintai kita, sesungguhnya tak pernah meninggalkan kita. Ia akan hadir dan kita pun akan merasakan kehadirannya. Di hati kita.
Salah satunya, ia adalah sahabat kita. Aku pernah punya seorang sahabat. Tepatnya sahabat kecil. Karena ia menemaniku sejak kecil. Masa kecil yang indah, aku lewati bersama sahabat kecilku ini. Masa yang berlalu, segala suka dan duka kami lewati bersama. Sampai suatu ketika aku menyadari ada sebuah perasaan yang sulit kuungkapkan. Sebenarnya perasaan ini sudah kurasakan sejak awal aku mengenalnya, tapi aku selalu ragu dengan perasaan ini dan kucoba untuk mengingkari dan menghilangkannya. Dia sahabatku dan kupikir sebuah persahabatan harus tulus, tak boleh dicemari dengan keinginan dan perasaan yang lain, kecuali perasaan sayang sebagai seorang sahabat. Tapi ternyata perasaan itu sangat sulit kuhilangkan. Dadaku sering terasa nyeri dan sakit. Apalagi aku melihat banyak teman perempuan yang menyukai sahabatku ini. Wajar kurasa, karena dia memang pintar, penampilannya menarik dan baik hati. Jadi tak aneh kalau banyak gadis yang menyukainya. Sementara aku hanya bisa menahan perasaanku, aku cukup memposisikan diri sebagai seorang sahabat yang baik.
Sampai suatu ketika, sahabatku ini mengirimi aku sebuah surat yang menyatakan bahwa dia mencintaiku. Hatiku senang dan berbunga. Tapi tanpa kusadari, aku tak pernah membalas suratnya itu. Aku tak pernah menyatakan apa yang ada di hatiku. Saat itu kupikir pastilah dia tahu isi hatiku. Ternyata aku salah. Tahun berlalu dan ketika kuliah kami terpisah oleh kesibukan masing-masing, meski kami kuliah di kota yang sama. Aku kehilangan kontak dengan sahabatku ini. Sampai suatu saat kudengar ia sudah menikah dengan seseorang. Entah mengapa, perasaanku saat itu biasa saja dan ada keyakinan di hatiku bahwa berita itu pastilah salah. Oh, betapa percaya dirinya aku saat itu. Lama-kelamaan berita menikahnya sahabatku ini makin santer. Setiap aku bertemu dengan teman SMA, pasti menanyakan kabar pernikahan sahabatku ini. Tapi entah mengapa, perasaanku saat itu biasa-biasa saja, aku begitu mempercayai sahabatku ini. Bahwa ia hanya mencintaiku, begitu sebaliknya aku amat menyayanginya. Aku setia padanya, kupikir bila kita bisa menjaga kesetiaan, maka hal yang sama akan kita dapatkan. Jadi tak ada artinya kabar itu bagiku.
Sampai suatu ketika, aku pulang saat liburan semester. Dan kejelasan itu terpampang di depan mata. Sahabatku telah menikah. Kenyataan itu begitu berat kuterima. Alangkah kejamnya nasib tak berpihak padaku. Untuk sementara aku tak bisa menerima apa yang terjadi, berharap semua hanya mimpi, meski kutahu sia-sia. Untuk beberapa saat aku terpuruk, perasaan tercampak, terbuang, tersia-siakan. Bukan pilihan. Nyeri itu begitu dalam menghujam ulu hati. Alangkah tega dia berbuat demikian, apa salahku? Mengapa? Beribu tanya tanpa jawab. Untuk sekian lama aku menghayati semua sakit, hatiku patah, jiwaku terluka, pikirku tak bisa menerima. Aku coba menenangkan diri dan coba menghibur diri. Melarikan semua luka dan sakit hati. Hidupku harus terus berlanjut. Oh, inikah rasanya dikhianati? Aku tersenyum dalam pedih.
Ajaib, aku memaafkannya saat itu juga. Aku menulis dan menulis, sebuah tulisan untuk menyembuhkan hatiku. Bahwa cinta sejati tak pernah melukai. Bahwa mencintai dengan tulus berarti ikut bahagia bila yang dicintainya itu bahagia. Bahwa cinta sejati hanya kenal memberi, dan tak harus memiliki. Aku berusaha untuk ikhlas dan ikut bahagia dengan pilihan sahabatku ini. Aku bahagia bila dia bahagia. Jadi untuk apa aku menangis? Bukankah sekarang ia sedang bahagia? Jadi aku juga harus bahagia. Maka sibuklah aku menyembunyikan segala kepedihan. Menutupinya dengan senyum ceria. Meski di sisi hatiku yang lain, tetap saja menyisakan beribu tanya. Sempat aku bertanya, apa artinya selembar surat nikah dengan berlembar-lembar hari yang telah kami lalui bersama? Atau, ada keinginan untuk merawat bayi mungil itu dengan kasih sayang, aku bisa mencintainya dan memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan. Jika saja anak itu tak diinginkan, aku mau merawatnya. Karena ia anak yang tak bersalah. Itulah yang ada di pikiranku saat itu. Aku hanya berpikir apa yang bisa kulakukan untuk sahabatku ini. Saat itu aku hanya berpikir, ok, aku telah kehilangan seorang kekasih hati, tapi aku tak mau kehilangan seorang sahabat. Bagaimanapun, ia tetap sahabatku, tak peduli apa yang telah ia lakukan dan perbuat, tak peduli bahwa ia telah melukai hatiku, tapi bagaimana pun, ia tetaplah sahabatku. Aku percaya, waktu akan menyembuhkan hatiku. Saat itu juga aku bertekat untuk keluar dari kehidupannya, aku tak akan memasuki kehidupan yang telah ia pilih dan akan membenahi hidupku sendiri. Aku ingin melupakannya, aku tak ingin bertemu dengannya, selamanya dalam sisa hidupku. Itu keinginanku.
Dengan pikiran seperti itu, perlahan-lahan aku bisa menyembuhkan diri. Didukung oleh lingkungan yang kondusif dan teman-teman yang kucintai dan mencintaiku. Tiga tahun kemudian, datang seseorang yang -mungkin- sudah Allah siapkan untukku. Akhirnya aku menikah. Allah telah menggantinya dengan orang yang tepat. Kini sudah belasan tahun usia pernikahan kami. Singkatnya, kini aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang.
*sumber : curhat seorang sahabat*
Salah satunya, ia adalah sahabat kita. Aku pernah punya seorang sahabat. Tepatnya sahabat kecil. Karena ia menemaniku sejak kecil. Masa kecil yang indah, aku lewati bersama sahabat kecilku ini. Masa yang berlalu, segala suka dan duka kami lewati bersama. Sampai suatu ketika aku menyadari ada sebuah perasaan yang sulit kuungkapkan. Sebenarnya perasaan ini sudah kurasakan sejak awal aku mengenalnya, tapi aku selalu ragu dengan perasaan ini dan kucoba untuk mengingkari dan menghilangkannya. Dia sahabatku dan kupikir sebuah persahabatan harus tulus, tak boleh dicemari dengan keinginan dan perasaan yang lain, kecuali perasaan sayang sebagai seorang sahabat. Tapi ternyata perasaan itu sangat sulit kuhilangkan. Dadaku sering terasa nyeri dan sakit. Apalagi aku melihat banyak teman perempuan yang menyukai sahabatku ini. Wajar kurasa, karena dia memang pintar, penampilannya menarik dan baik hati. Jadi tak aneh kalau banyak gadis yang menyukainya. Sementara aku hanya bisa menahan perasaanku, aku cukup memposisikan diri sebagai seorang sahabat yang baik.
Sampai suatu ketika, sahabatku ini mengirimi aku sebuah surat yang menyatakan bahwa dia mencintaiku. Hatiku senang dan berbunga. Tapi tanpa kusadari, aku tak pernah membalas suratnya itu. Aku tak pernah menyatakan apa yang ada di hatiku. Saat itu kupikir pastilah dia tahu isi hatiku. Ternyata aku salah. Tahun berlalu dan ketika kuliah kami terpisah oleh kesibukan masing-masing, meski kami kuliah di kota yang sama. Aku kehilangan kontak dengan sahabatku ini. Sampai suatu saat kudengar ia sudah menikah dengan seseorang. Entah mengapa, perasaanku saat itu biasa saja dan ada keyakinan di hatiku bahwa berita itu pastilah salah. Oh, betapa percaya dirinya aku saat itu. Lama-kelamaan berita menikahnya sahabatku ini makin santer. Setiap aku bertemu dengan teman SMA, pasti menanyakan kabar pernikahan sahabatku ini. Tapi entah mengapa, perasaanku saat itu biasa-biasa saja, aku begitu mempercayai sahabatku ini. Bahwa ia hanya mencintaiku, begitu sebaliknya aku amat menyayanginya. Aku setia padanya, kupikir bila kita bisa menjaga kesetiaan, maka hal yang sama akan kita dapatkan. Jadi tak ada artinya kabar itu bagiku.
Sampai suatu ketika, aku pulang saat liburan semester. Dan kejelasan itu terpampang di depan mata. Sahabatku telah menikah. Kenyataan itu begitu berat kuterima. Alangkah kejamnya nasib tak berpihak padaku. Untuk sementara aku tak bisa menerima apa yang terjadi, berharap semua hanya mimpi, meski kutahu sia-sia. Untuk beberapa saat aku terpuruk, perasaan tercampak, terbuang, tersia-siakan. Bukan pilihan. Nyeri itu begitu dalam menghujam ulu hati. Alangkah tega dia berbuat demikian, apa salahku? Mengapa? Beribu tanya tanpa jawab. Untuk sekian lama aku menghayati semua sakit, hatiku patah, jiwaku terluka, pikirku tak bisa menerima. Aku coba menenangkan diri dan coba menghibur diri. Melarikan semua luka dan sakit hati. Hidupku harus terus berlanjut. Oh, inikah rasanya dikhianati? Aku tersenyum dalam pedih.
Ajaib, aku memaafkannya saat itu juga. Aku menulis dan menulis, sebuah tulisan untuk menyembuhkan hatiku. Bahwa cinta sejati tak pernah melukai. Bahwa mencintai dengan tulus berarti ikut bahagia bila yang dicintainya itu bahagia. Bahwa cinta sejati hanya kenal memberi, dan tak harus memiliki. Aku berusaha untuk ikhlas dan ikut bahagia dengan pilihan sahabatku ini. Aku bahagia bila dia bahagia. Jadi untuk apa aku menangis? Bukankah sekarang ia sedang bahagia? Jadi aku juga harus bahagia. Maka sibuklah aku menyembunyikan segala kepedihan. Menutupinya dengan senyum ceria. Meski di sisi hatiku yang lain, tetap saja menyisakan beribu tanya. Sempat aku bertanya, apa artinya selembar surat nikah dengan berlembar-lembar hari yang telah kami lalui bersama? Atau, ada keinginan untuk merawat bayi mungil itu dengan kasih sayang, aku bisa mencintainya dan memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan. Jika saja anak itu tak diinginkan, aku mau merawatnya. Karena ia anak yang tak bersalah. Itulah yang ada di pikiranku saat itu. Aku hanya berpikir apa yang bisa kulakukan untuk sahabatku ini. Saat itu aku hanya berpikir, ok, aku telah kehilangan seorang kekasih hati, tapi aku tak mau kehilangan seorang sahabat. Bagaimanapun, ia tetap sahabatku, tak peduli apa yang telah ia lakukan dan perbuat, tak peduli bahwa ia telah melukai hatiku, tapi bagaimana pun, ia tetaplah sahabatku. Aku percaya, waktu akan menyembuhkan hatiku. Saat itu juga aku bertekat untuk keluar dari kehidupannya, aku tak akan memasuki kehidupan yang telah ia pilih dan akan membenahi hidupku sendiri. Aku ingin melupakannya, aku tak ingin bertemu dengannya, selamanya dalam sisa hidupku. Itu keinginanku.
Dengan pikiran seperti itu, perlahan-lahan aku bisa menyembuhkan diri. Didukung oleh lingkungan yang kondusif dan teman-teman yang kucintai dan mencintaiku. Tiga tahun kemudian, datang seseorang yang -mungkin- sudah Allah siapkan untukku. Akhirnya aku menikah. Allah telah menggantinya dengan orang yang tepat. Kini sudah belasan tahun usia pernikahan kami. Singkatnya, kini aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang.
*sumber : curhat seorang sahabat*
Rabu, 02 Juli 2008
Merpati Tak Pernah Terbang Tinggi
“Dari mana saja?! Pergi tak bilang-bilang, perempuan macam apa kau!” suara laki-laki itu terdengar menggelegar. Matanya berkilat-kilat menahan amarah. Tangannya siap melayang menampar pipiku, seperti biasa.
Aku segera beranjak, pergi menghindar. Tapi sebelah tangannya sempat mengenai pelipisku. Terasa panas dan perih. Tapi tak seperih sakit di hatiku. Batinku menangis. Tapi sekuat tenaga aku tahan agar tak mengeluarkan air mata di hadapannya. Kalau melihatku menangis, suamiku bukannya jatuh kasihan, tapi kemarahannya akan semakin menjadi.
“Sri! Ayo jawab!” katanya membentak.
Aku membisu, percuma saja dijawab. Laki-laki itu akan makin murka. Hari ini memang waktuku mengambil gaji mantan suamiku buat anak-anak. Aku mengambilnya sendiri di bagian tata usaha kampus, seperti biasa saat kami belum bercerai. Mas Bram, suami keduaku, sudah tahu akan hal ini, aku toh tak pernah menutup-nutupi dan menceritakan apa adanya. Dan seperti biasa ia akan merampas uang itu dariku. Untuk apa lagi kalau bukan untuk melampiaskan kesenangan pribadinya. Aku tak tahu, kenapa dulu aku bisa menikah lagi dengan suami yang kasar, pengangguran dan sungguh tak tahu diri. Jika saja saat itu aku tak dikuasai emosi sesaat.
Di dalam kamar, kutemui dua buah hatiku yang merapat ke tembok, ketakutan. Segera aku peluk keduanya.
“Semua akan baik-baik saja. Mama akan selalu bersama kalian…” kataku menahan tangis.
Mata bulat Liana basah, “Liana takut Ma, kita pulang saja…”
Pulang. Hatiku membiru. Yang dimaksud Liana dengan pulang adalah pulang ke rumah lama kami. Terngiang kembali perkataan Mas Rizal, "Sri, kita adalah merpati yang tak pernah terbang tinggi. Karena rumah adalah tempat terindah untuk kembali." Ah, kenangan itu.
Kupandang Dimas, sulungku. Anak itu hanya diam. Tapi aku tahu, hatinya pasti terluka. Ada rasa bersalah menyusup dalam hatiku. Sungguh keadaan rumah tanggaku selama setahun ini sangat tak bagus buat perkembangan anak-anak. Gelegar amarah, tamparan, umpatan, caci maki, sudah menjadi santapan sehari-hari. Tak ada ketenangan dan kedamaian. Berbeda sekali dengan suasana sebelum akhirnya aku memutuskan menikah dengan Bram, suami keduaku.
Kenangan itu selalu datang lagi. Aku tak ingin membanding-bandingkan seseorang, karena semua orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mas Rizal, papanya anak-anak, adalah tipe suami yang lembut. Jangankan menampar, membentak saja tak pernah. Mungkin karena Mas Rizal dibesarkan dalam keluarga priyayi, sehingga amat menjaga etika dan sopan santun. Bila ia marah sama anak-anak, cukup matanya sedikit melotot, anak-anak sudah langsung takut. Atau bila ia marah padaku, bukannya mengumpat atau mengeluarkan amarahnya sampai habis, Mas Rizal malah memilih diam. Mendiamkanku berhari-hari.
Di awal-awal pernikahan aku tidak tahu, kenapa ia diam setiap kuajak bicara atau kutawari sesuatu. Ternyata saat itu ia sedang marah padaku. Bila ingat itu, aku selalu tersenyum sendiri. Aku selalu bilang padanya, untuk terbuka mengatakan apa saja padaku, jangan dipendam dan jangan disimpan sendiri. Sejak saat itu sikap Mas Rizal pelan-pelan berubah. Aku yang merasa bersalah spontan minta maaf padanya. Aku bersyukur karena Mas Rizal bukan orang yang suka memendam amarah.
Di mataku, Mas Rizal adalah suami sempurna. Satu-satunya kesalahannya yang membuat aku menangis dan tak termaafkan olehku adalah ketika ia ketahuan telah menikah lagi.
Suatu hari, saat suamiku pergi mengajar, hand phone-nya ketinggalan di rumah. Sekitar jam sembilan pagi, hp nya berdering. Tanpa kecurigaan apa pun, aku angkat hp-nya.
“Halo?”
“Ya, halo. Ini siapa?”
“Maaf, bisa bicara dengan Bapak Rizal Bu? Ini dari Rumah Sakit Sarjito”
“Ada apa ya Pak? Bapak lagi ngajar, hp-nya ketinggalan di rumah. Ada pesan, Pak? Nanti saya sampaikan”
“Tolong cepat disampaikan ya Bu. Istri Pak Rizal masuk rumah sakit! Kami butuh tanda tangannya untuk segera dilakukan operasi”
Klik. Telepon dimatikan. Aku tertegun. Tak salahkah pendengaranku? Istri Mas Rizal? Istri yang mana? Aku istrinya dan aku baik-baik saja. Aku tak sakit apa-apa, tak jugaakan dioperasi. Apakah telepon salah sambung?
Segera aku telpon kampus, pun masih dengan perasaan biasa. Aku hanya ingin menggodanya.
“Halo, Mas, ada telpon salah sambung dari Sarjito, masak ia bilang istrimu akan operasi, ada-ada saja…” kataku sambil tertawa.
Di luar dugaanku, suamiku hanya diam tak menyahut.
“Mas…Mas… dengar nggak sih”
“Eh…eh…iya…” jawabnya terbata sambil segera menutup telpon. Aku heran. Kenapa Mas Rizal jadi gugup begitu.
Siang itu, aku sudah janjian sama pengurus POMG untuk menjenguk salah satu orang tua yang melahirkan. Sebelum menjemput anak-anak pulang sekolah, kami bersama-sama ke rumah sakit.
Alangkah terkejutnya aku saat sebelum memasuki ruangan, aku melihat Mas Rizal sedang berbincang serius dengan seorang dokter. Di sebelahnya tampak seorang wanita tergolek lemah dengan selang infuse. Tampaknya wanita itu sedang sakit, aku melihatnya memejamkan mata, didorong dua suster memasuki ruang perawatan.
Ketika bertatap mata denganku, Mas Rizal sangat terkejut dan tak dapat menutupi kegugupannya. Apalagi saat salah seorang temanku menyapa Mas Rizal.
“Mbak Alin sudah dioperasi ya, Mas? Semoga cepat baikan ya. Amin”
“Iya, terima kasih,” jawab Mas Rizal gugup.
Aku hanya berdiri mematung. Kepalaku penuh tanya, siapakah wanita yang tergolek di tempat tidur itu? Untung saja teman-temanku tadi tak tahu kalau Mas Rizal adalah suamiku. Keinginanku untuk mengenalkan Mas Agus pada mereka pupus. Aku bahkan hanya diam mematung, sementara Mas Rizal segera berlalu karena tampaknya kondisi perempuan itu agak mengkhawatirkan.
“Kasihan Alin, dia terkena penyakit kanker stadium lanjut. Untung saja suaminya sangat baik dan penuh perhatian,” kata Mama Riana.
“Sst …Jeng, maaf lho, tapi katanya Bu Alin itu istri keduanya Pak Rizal ya…” timpal yang lain.
“Alah Jeng Nana ini, itu kan gossip. Seandainya benar ya biar saja to Jeng…’ kata mama Riana disusul tawa yang lain.
Apa yang terjadi selanjutnya sangat sakit untuk diceritakan. Aku memilih untuk melupakannya. Singkat cerita aku keluar dari rumah yang telah kami tinggali selama tujuh tahun. Tanpa perlu mendengar segala penjelasannya, aku hanya berpikir satu hal : cerai!
Mas Rizal menangis-nangis, memohon-mohon, bersujud di kakiku. Tapi aku sudah terlanjur sakit. Tidak ada badai, tidak ada angin, tidak ada hujan, kenapa bisa begini? Aku tak tahu harus menyalahkan siapa, tak tahu harus marah pada siapa. Mas Rizal ngotot tak mau menceraikanku, tapi juga tak mau menceraikan perempuan itu. Aku tetap memaksa dia untuk minta cerai. Akhirnya aku pergi membawa anak-anak.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan Mas Bram. Mas Bram yang sabar, lembut dan baik. Aku merasa mempunyai teman bicara. Melihat kedekatanku dengan Mas Bram, akhirnya Mas Rizal mengabulkan gugatan ceraiku. Aku puas bisa membalas sakit hatiku padanya.
“Hati-hati, mungkin dia bukan laki-laki yang baik,” itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum meninggalkan ruangan sidang.
Aku mendengus dalam hati, “Setidaknya ia bukan pembohong sepertimu.”
Singkat cerita akhirnya kami menikah. Di awal-awal pernikahan Mas Bram tampak sangat baik padaku, juga baik pada Liana dan Dimas. Bulan kedua, sudah tampak sifat aslinya yang kasar dan mudah mengumpat. Sedikit saja aku melakukan kesalahan, ia akan sangat marah dan ringan tangan. Memang setelahnya ia akan memohon-mohon maaf atas sikapnya yang kasar. Aku coba memahaminya karena kuanggap ini adalah sebuah proses yang harus dilalui. Pernikahan yang baru seumur sebulan memang penuh masa penyesuaian dan kuakui itu tak mudah. Mungkin tak mudah bagi Mas Bram untuk menyesuaikan diri bahwa ia menikah dengan janda yang sudah mempunyai dua anak. Jadi aku memilih mengalah kalau Mas Bram sedang marah.
Yang membuatku sedih adalah sikap Mas Bram yang kasar pada anak-anak. Sekali lagi aku mengalah, walaupun aku selalu merasa tak rela bila anak-anakku sering jadi sasaran kemarahannya.
Kini hidupku berbalik 180 derajat. Bila dulu aku menikmati hari-hari sebagai ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami serta selalu tinggal di rumah, kini aku harus ikut bekerja membanting tulang karena perusahaan Mas Bram sedang pailit akibat kenaikan BBM. Bila dulu dalam mengerjakan urusan rumah tangga aku dibantu oleh seorang prt, kini semuanya harus aku kerjakan sendiri. Jangankan menggaji seorang prt, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja kami kesulitan. Untung uang sekolah masih ditopang oleh gaji Mas Rizal, yang aku ambil setiap awal bulan.
Sebenarnya tak masalah aku harus mengerjakan semuanya sendirian, tak masalah aku setiap hari membuat kue dan menitipkannya di warung-warung. Juga malam-malam aku sibuk menyelesaikan pesanan jahitan. Aku senang melakukan itu semua. Tak mengapa karena kupikir uangnya toh untuk menutupi kebutuhan anak-anak juga. Andai saja Mas Bram bisa bersikap lebih lembut, andai saja Mas Bram bisa lebih mengerti dan memahami. Dan bukannya marah-marah. Dan bukannya malah menghambur-hamburkan uang hasil jerih payahku yang tak seberapa.
Aku sedih karena prestasi anak-anak di sekolah juga turun, mungkin anak-anak ikut terpengaruh kondisi rumah yang kurang harmonis. Aku sudah tak bisa berpikir lagi, karena yang sekarang ada di otakku adalah bagaimana agar setiap detik yang kulakukan dapat menghasilkan rupiah. Tak mungkin mengharap Mas Bram yang semakin tenggelam dalam dunianya. Pulang larut malam dalam keadaan mulut berbau alkohol. Masih lebih baik bila sehari saja ia tak marah, artinya aku terbebas dari pukulan dan tamparan, juga caci makinya yang amat kasar.
Sebenarnya jauh dari lubuk hatiku, aku ingin mengakhiri perkawinan yang sungguh tak sehat ini. Tapi egoku masih terlalu kuat. Aku malu pada Mas Rizal jika harus bercerai untuk yang kedua kalinya.
Aku masih ingat, ketika bertemu di kampus saat mengambil uang anak-anak –yang nota bene adalah gaji Mas Rizal- seperti biasa Mas Rizal mengikuti dari belakang. Mungkin untuk sekedar mengetahui keadaan kami sekarang. Bukannya senang, aku malah merasa semakin tersiksa. Karena biasanya Mas Rizal akan bertanya, "Bagaimana kabar Dimas dan Liana? Apakah mereka sehat-sehat saja? Bagaimana dengan sekolahnya?" Lalu Mas Rizal akan menitipkan sesuatu untuk anak-anak. Meskipun hanya berupa barang sederhana, setidaknya hal itu menunjukkan betapa Mas Rizal masih sangat memperhatikan dan menyayangi anak-anak.
Saat itu, susah payah kusembunyikan pipi yang masih tampak legam biru-biru akibat tamparan Mas Bram malam sebelumnya. Setengah berlari aku menghindar dari tatapannya, tapi sia-sia.
“Kenapa Sri? Apa dia memukulmu?” tanyanya cemas.
Aku berusaha menahan air mata yang hampir keluar dan segera berlari meninggalkannya. Mas Rizal hanya diam dan tak mengejarku. Hatiku semakin sedih. Saat tahu bahwa, Alin, istri kedua Mas Rizal akhirnya meninggal sebulan setelah menjalani operasi yang kesekian kalinya. Kata dokter, kankernya sudah jauh menjalar ke organ-organ vital lainnya. Hatiku diliputi rasa sesal. Tapi, entah kenapa saat itu aku tetap tak bisa menerima sikap Mas Rizal yang diam-diam menikah tanpa sepengetahuanku. Bagiku, Mas Rizal telah menciderai kesetiaan dan kepercayaanku padanya. Dan aku tetap tidak bisa menerima, dengan alasan apa pun jua.
“Alin itu teman SMP Rizal, Sri. Mereka sudah berteman sejak kecil. Beberapa tahun ini Alin sakit-sakitan, dia pernah bilang sama ibu, sebelum meninggal ia ingin menikah dengan seseorang yang sangat dicintainya. Dan orang itu adalah Rizal. Cobalah mengerti, Nduk…” itu adalah kata-kata ibu Mas Rizal, saat aku minta cerai dari anaknya.
“Dulu mereka memang sempat pacaran, mungkin cuma cinta monyet. Maafkan Ibu belum menceritakan hal ini padamu. Ibu hanya ingin mencari saat yang tepat, lha kok malah kamu sudah tahu lebih dulu. Percayalah Masmu itu sangat cinta sama kamu Sri, Ibu paham betul sifatnya…”
Ya, seandainya saat itu aku tak dikuasai emosi. Seandainya saja telingaku lebih bisa mendengar, mataku lebih bisa melihat dan hatiku lebih bisa sabar. Ya, seandainya saja…
*) Diangkat dari kisah nyata, nama dan tempat disamarkan
Aku segera beranjak, pergi menghindar. Tapi sebelah tangannya sempat mengenai pelipisku. Terasa panas dan perih. Tapi tak seperih sakit di hatiku. Batinku menangis. Tapi sekuat tenaga aku tahan agar tak mengeluarkan air mata di hadapannya. Kalau melihatku menangis, suamiku bukannya jatuh kasihan, tapi kemarahannya akan semakin menjadi.
“Sri! Ayo jawab!” katanya membentak.
Aku membisu, percuma saja dijawab. Laki-laki itu akan makin murka. Hari ini memang waktuku mengambil gaji mantan suamiku buat anak-anak. Aku mengambilnya sendiri di bagian tata usaha kampus, seperti biasa saat kami belum bercerai. Mas Bram, suami keduaku, sudah tahu akan hal ini, aku toh tak pernah menutup-nutupi dan menceritakan apa adanya. Dan seperti biasa ia akan merampas uang itu dariku. Untuk apa lagi kalau bukan untuk melampiaskan kesenangan pribadinya. Aku tak tahu, kenapa dulu aku bisa menikah lagi dengan suami yang kasar, pengangguran dan sungguh tak tahu diri. Jika saja saat itu aku tak dikuasai emosi sesaat.
Di dalam kamar, kutemui dua buah hatiku yang merapat ke tembok, ketakutan. Segera aku peluk keduanya.
“Semua akan baik-baik saja. Mama akan selalu bersama kalian…” kataku menahan tangis.
Mata bulat Liana basah, “Liana takut Ma, kita pulang saja…”
Pulang. Hatiku membiru. Yang dimaksud Liana dengan pulang adalah pulang ke rumah lama kami. Terngiang kembali perkataan Mas Rizal, "Sri, kita adalah merpati yang tak pernah terbang tinggi. Karena rumah adalah tempat terindah untuk kembali." Ah, kenangan itu.
Kupandang Dimas, sulungku. Anak itu hanya diam. Tapi aku tahu, hatinya pasti terluka. Ada rasa bersalah menyusup dalam hatiku. Sungguh keadaan rumah tanggaku selama setahun ini sangat tak bagus buat perkembangan anak-anak. Gelegar amarah, tamparan, umpatan, caci maki, sudah menjadi santapan sehari-hari. Tak ada ketenangan dan kedamaian. Berbeda sekali dengan suasana sebelum akhirnya aku memutuskan menikah dengan Bram, suami keduaku.
Kenangan itu selalu datang lagi. Aku tak ingin membanding-bandingkan seseorang, karena semua orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mas Rizal, papanya anak-anak, adalah tipe suami yang lembut. Jangankan menampar, membentak saja tak pernah. Mungkin karena Mas Rizal dibesarkan dalam keluarga priyayi, sehingga amat menjaga etika dan sopan santun. Bila ia marah sama anak-anak, cukup matanya sedikit melotot, anak-anak sudah langsung takut. Atau bila ia marah padaku, bukannya mengumpat atau mengeluarkan amarahnya sampai habis, Mas Rizal malah memilih diam. Mendiamkanku berhari-hari.
Di awal-awal pernikahan aku tidak tahu, kenapa ia diam setiap kuajak bicara atau kutawari sesuatu. Ternyata saat itu ia sedang marah padaku. Bila ingat itu, aku selalu tersenyum sendiri. Aku selalu bilang padanya, untuk terbuka mengatakan apa saja padaku, jangan dipendam dan jangan disimpan sendiri. Sejak saat itu sikap Mas Rizal pelan-pelan berubah. Aku yang merasa bersalah spontan minta maaf padanya. Aku bersyukur karena Mas Rizal bukan orang yang suka memendam amarah.
Di mataku, Mas Rizal adalah suami sempurna. Satu-satunya kesalahannya yang membuat aku menangis dan tak termaafkan olehku adalah ketika ia ketahuan telah menikah lagi.
Suatu hari, saat suamiku pergi mengajar, hand phone-nya ketinggalan di rumah. Sekitar jam sembilan pagi, hp nya berdering. Tanpa kecurigaan apa pun, aku angkat hp-nya.
“Halo?”
“Ya, halo. Ini siapa?”
“Maaf, bisa bicara dengan Bapak Rizal Bu? Ini dari Rumah Sakit Sarjito”
“Ada apa ya Pak? Bapak lagi ngajar, hp-nya ketinggalan di rumah. Ada pesan, Pak? Nanti saya sampaikan”
“Tolong cepat disampaikan ya Bu. Istri Pak Rizal masuk rumah sakit! Kami butuh tanda tangannya untuk segera dilakukan operasi”
Klik. Telepon dimatikan. Aku tertegun. Tak salahkah pendengaranku? Istri Mas Rizal? Istri yang mana? Aku istrinya dan aku baik-baik saja. Aku tak sakit apa-apa, tak jugaakan dioperasi. Apakah telepon salah sambung?
Segera aku telpon kampus, pun masih dengan perasaan biasa. Aku hanya ingin menggodanya.
“Halo, Mas, ada telpon salah sambung dari Sarjito, masak ia bilang istrimu akan operasi, ada-ada saja…” kataku sambil tertawa.
Di luar dugaanku, suamiku hanya diam tak menyahut.
“Mas…Mas… dengar nggak sih”
“Eh…eh…iya…” jawabnya terbata sambil segera menutup telpon. Aku heran. Kenapa Mas Rizal jadi gugup begitu.
Siang itu, aku sudah janjian sama pengurus POMG untuk menjenguk salah satu orang tua yang melahirkan. Sebelum menjemput anak-anak pulang sekolah, kami bersama-sama ke rumah sakit.
Alangkah terkejutnya aku saat sebelum memasuki ruangan, aku melihat Mas Rizal sedang berbincang serius dengan seorang dokter. Di sebelahnya tampak seorang wanita tergolek lemah dengan selang infuse. Tampaknya wanita itu sedang sakit, aku melihatnya memejamkan mata, didorong dua suster memasuki ruang perawatan.
Ketika bertatap mata denganku, Mas Rizal sangat terkejut dan tak dapat menutupi kegugupannya. Apalagi saat salah seorang temanku menyapa Mas Rizal.
“Mbak Alin sudah dioperasi ya, Mas? Semoga cepat baikan ya. Amin”
“Iya, terima kasih,” jawab Mas Rizal gugup.
Aku hanya berdiri mematung. Kepalaku penuh tanya, siapakah wanita yang tergolek di tempat tidur itu? Untung saja teman-temanku tadi tak tahu kalau Mas Rizal adalah suamiku. Keinginanku untuk mengenalkan Mas Agus pada mereka pupus. Aku bahkan hanya diam mematung, sementara Mas Rizal segera berlalu karena tampaknya kondisi perempuan itu agak mengkhawatirkan.
“Kasihan Alin, dia terkena penyakit kanker stadium lanjut. Untung saja suaminya sangat baik dan penuh perhatian,” kata Mama Riana.
“Sst …Jeng, maaf lho, tapi katanya Bu Alin itu istri keduanya Pak Rizal ya…” timpal yang lain.
“Alah Jeng Nana ini, itu kan gossip. Seandainya benar ya biar saja to Jeng…’ kata mama Riana disusul tawa yang lain.
Apa yang terjadi selanjutnya sangat sakit untuk diceritakan. Aku memilih untuk melupakannya. Singkat cerita aku keluar dari rumah yang telah kami tinggali selama tujuh tahun. Tanpa perlu mendengar segala penjelasannya, aku hanya berpikir satu hal : cerai!
Mas Rizal menangis-nangis, memohon-mohon, bersujud di kakiku. Tapi aku sudah terlanjur sakit. Tidak ada badai, tidak ada angin, tidak ada hujan, kenapa bisa begini? Aku tak tahu harus menyalahkan siapa, tak tahu harus marah pada siapa. Mas Rizal ngotot tak mau menceraikanku, tapi juga tak mau menceraikan perempuan itu. Aku tetap memaksa dia untuk minta cerai. Akhirnya aku pergi membawa anak-anak.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan Mas Bram. Mas Bram yang sabar, lembut dan baik. Aku merasa mempunyai teman bicara. Melihat kedekatanku dengan Mas Bram, akhirnya Mas Rizal mengabulkan gugatan ceraiku. Aku puas bisa membalas sakit hatiku padanya.
“Hati-hati, mungkin dia bukan laki-laki yang baik,” itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum meninggalkan ruangan sidang.
Aku mendengus dalam hati, “Setidaknya ia bukan pembohong sepertimu.”
Singkat cerita akhirnya kami menikah. Di awal-awal pernikahan Mas Bram tampak sangat baik padaku, juga baik pada Liana dan Dimas. Bulan kedua, sudah tampak sifat aslinya yang kasar dan mudah mengumpat. Sedikit saja aku melakukan kesalahan, ia akan sangat marah dan ringan tangan. Memang setelahnya ia akan memohon-mohon maaf atas sikapnya yang kasar. Aku coba memahaminya karena kuanggap ini adalah sebuah proses yang harus dilalui. Pernikahan yang baru seumur sebulan memang penuh masa penyesuaian dan kuakui itu tak mudah. Mungkin tak mudah bagi Mas Bram untuk menyesuaikan diri bahwa ia menikah dengan janda yang sudah mempunyai dua anak. Jadi aku memilih mengalah kalau Mas Bram sedang marah.
Yang membuatku sedih adalah sikap Mas Bram yang kasar pada anak-anak. Sekali lagi aku mengalah, walaupun aku selalu merasa tak rela bila anak-anakku sering jadi sasaran kemarahannya.
Kini hidupku berbalik 180 derajat. Bila dulu aku menikmati hari-hari sebagai ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami serta selalu tinggal di rumah, kini aku harus ikut bekerja membanting tulang karena perusahaan Mas Bram sedang pailit akibat kenaikan BBM. Bila dulu dalam mengerjakan urusan rumah tangga aku dibantu oleh seorang prt, kini semuanya harus aku kerjakan sendiri. Jangankan menggaji seorang prt, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja kami kesulitan. Untung uang sekolah masih ditopang oleh gaji Mas Rizal, yang aku ambil setiap awal bulan.
Sebenarnya tak masalah aku harus mengerjakan semuanya sendirian, tak masalah aku setiap hari membuat kue dan menitipkannya di warung-warung. Juga malam-malam aku sibuk menyelesaikan pesanan jahitan. Aku senang melakukan itu semua. Tak mengapa karena kupikir uangnya toh untuk menutupi kebutuhan anak-anak juga. Andai saja Mas Bram bisa bersikap lebih lembut, andai saja Mas Bram bisa lebih mengerti dan memahami. Dan bukannya marah-marah. Dan bukannya malah menghambur-hamburkan uang hasil jerih payahku yang tak seberapa.
Aku sedih karena prestasi anak-anak di sekolah juga turun, mungkin anak-anak ikut terpengaruh kondisi rumah yang kurang harmonis. Aku sudah tak bisa berpikir lagi, karena yang sekarang ada di otakku adalah bagaimana agar setiap detik yang kulakukan dapat menghasilkan rupiah. Tak mungkin mengharap Mas Bram yang semakin tenggelam dalam dunianya. Pulang larut malam dalam keadaan mulut berbau alkohol. Masih lebih baik bila sehari saja ia tak marah, artinya aku terbebas dari pukulan dan tamparan, juga caci makinya yang amat kasar.
Sebenarnya jauh dari lubuk hatiku, aku ingin mengakhiri perkawinan yang sungguh tak sehat ini. Tapi egoku masih terlalu kuat. Aku malu pada Mas Rizal jika harus bercerai untuk yang kedua kalinya.
Aku masih ingat, ketika bertemu di kampus saat mengambil uang anak-anak –yang nota bene adalah gaji Mas Rizal- seperti biasa Mas Rizal mengikuti dari belakang. Mungkin untuk sekedar mengetahui keadaan kami sekarang. Bukannya senang, aku malah merasa semakin tersiksa. Karena biasanya Mas Rizal akan bertanya, "Bagaimana kabar Dimas dan Liana? Apakah mereka sehat-sehat saja? Bagaimana dengan sekolahnya?" Lalu Mas Rizal akan menitipkan sesuatu untuk anak-anak. Meskipun hanya berupa barang sederhana, setidaknya hal itu menunjukkan betapa Mas Rizal masih sangat memperhatikan dan menyayangi anak-anak.
Saat itu, susah payah kusembunyikan pipi yang masih tampak legam biru-biru akibat tamparan Mas Bram malam sebelumnya. Setengah berlari aku menghindar dari tatapannya, tapi sia-sia.
“Kenapa Sri? Apa dia memukulmu?” tanyanya cemas.
Aku berusaha menahan air mata yang hampir keluar dan segera berlari meninggalkannya. Mas Rizal hanya diam dan tak mengejarku. Hatiku semakin sedih. Saat tahu bahwa, Alin, istri kedua Mas Rizal akhirnya meninggal sebulan setelah menjalani operasi yang kesekian kalinya. Kata dokter, kankernya sudah jauh menjalar ke organ-organ vital lainnya. Hatiku diliputi rasa sesal. Tapi, entah kenapa saat itu aku tetap tak bisa menerima sikap Mas Rizal yang diam-diam menikah tanpa sepengetahuanku. Bagiku, Mas Rizal telah menciderai kesetiaan dan kepercayaanku padanya. Dan aku tetap tidak bisa menerima, dengan alasan apa pun jua.
“Alin itu teman SMP Rizal, Sri. Mereka sudah berteman sejak kecil. Beberapa tahun ini Alin sakit-sakitan, dia pernah bilang sama ibu, sebelum meninggal ia ingin menikah dengan seseorang yang sangat dicintainya. Dan orang itu adalah Rizal. Cobalah mengerti, Nduk…” itu adalah kata-kata ibu Mas Rizal, saat aku minta cerai dari anaknya.
“Dulu mereka memang sempat pacaran, mungkin cuma cinta monyet. Maafkan Ibu belum menceritakan hal ini padamu. Ibu hanya ingin mencari saat yang tepat, lha kok malah kamu sudah tahu lebih dulu. Percayalah Masmu itu sangat cinta sama kamu Sri, Ibu paham betul sifatnya…”
Ya, seandainya saat itu aku tak dikuasai emosi. Seandainya saja telingaku lebih bisa mendengar, mataku lebih bisa melihat dan hatiku lebih bisa sabar. Ya, seandainya saja…
*) Diangkat dari kisah nyata, nama dan tempat disamarkan
Kamis, 26 Juni 2008
Senin, 23 Juni 2008
Ketika Cinta Meninggalkanmu
Cinta. Hanya terdiri dari lima huruf, hanya terdiri dari dua suku kata. Kabarnya, cinta itu indah. Cinta yang membuat banyak orang tertawa. Cinta jua yang telah membuat banyak orang menangis. Cinta telah membuat orang bertahan. Tapi cinta juga yang membuat orang menyerah. Cinta juga yang telah membawaku ke gedung ini. Mendengarkan pembacaan keputusan hakim yang -entah- kunantikan atau kutakutkan. Meski sudah berusaha keras untuk menguatkan perasaan, jiwaku tercabik juga saat hakim membacakan putusan dan mengetuk palu. Tanda bahwa mulai detik itu kumasuki awal perjalanan hidup, kubuka lembaran baru. Aku telah menjadi seorang janda! Sebuah status yang mungkin tak seorang pun menginginkannya.
Kupandang sekali lagi gedung itu, sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya. Akhirnya semua selesai sudah di sini. Ada beban berat yang pelan-pelan terangkat. Seiring segumpal rasa bersalah pada anak-anak. "Maafkan, bila akhirnya Bunda benar-benar memisahkan kalian dari ayah, Sayang..." bisik hatiku. Mataku panas, tapi air mata ini telah kering.
Aku hampir tak percaya. Dua jiwa yang dulu saling mencintai, kini saling membenci. Dua hati yang dulu mengikat janji, setia sehidup semati, kini pulang sendiri-sendiri. Tak ada lagi elusan lembut, senyum hangat atau sekedar sapa yang sejukkan jiwa. Begitu sidang usai, suamiku -lebih tepatnya mantan suami- langsung tergesa masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja. Aku mencoba berbesar hati dengan sikapnya. Suamiku mungkin masih marah dan tak menginginkan perpisahan ini, tepatnya mungkin tak sanggup berpisah dengan anak-anak. Tapi keputusanku sudah bulat. Inilah hidupku. Aku hanyalah wanita biasa. Aku bukan Aisha yang mengijinkan Fahri -suaminya- menikahi Maria dalam Ayat-ayat Cinta. Pun aku bukan Humaera yang memaksa Attar menikahi May, dalam Munajah Cinta. Semua hanyalah cerita dongeng. Aku hidup dalam kenyataan. Dan tak ada kenyataan seindah dongeng.
Katanya perempuan memiliki perasaan yang lembut dan insting yang kuat. Tapi kemana perginya perasaan itu, ketika kujumpai suatu hari suamiku begitu wangi dan berseri-seri? Aku justru bangga karena suamiku betah di kantornya yang baru dan menyukai pekerjaannya. Karena aku paling sedih bila suamiku mengeluh stress dengan pekerjannnya. Jadi selama pindah ke kantor yang baru, sungguh aku tak punya perasaan apa-apa melihat suamiku tiap hari semangat berangkat kerja dan mendapat posisi yang bagus. Dia memang jadi lebih sering pulang malam, lembur, begitu alasannya selalu, dengan lembut dan makin memanjakanku. Juga limpahan materi menandakan ia memang benar-benar bekerja keras mencari nafkah buat kami sekeluarga. Sungguh aku tak pernah curiga.
Ketika kudengar desas desus bahwa suamiku ada affair dengan salah seorang atasannya, kuanggap itu hanya isu yang dihembuskan oleh orang yang tak suka dengan kebahagiaan keluarga kecil kami. Aku tahu, suamiku memang cerdas dan tekun, jadi wajar kalau dia disukai atasan dan mendapat peran yang penting. Karena sejak suamiku bergabung, perusahaan itu semakin berkembang dan maju.
Tapi sepandai-pandai tupai meloncat, ia akan jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akan tercium juga. Awalnya adalah saat suamiku dipindahtugaskan ke luar kota. "Bunda dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta saja, toh Ayah pergi tak lama. Setiap Sabtu dan Minggu Ayah akan pulang ke Jakarta. Naik pesawat hanya satu jam kan..." begitu kata suamiku saat akan berangkat. Pun saat aku merasa kerepotan mengurus anak-anak sendiri, suamiku dengan lembut kembali berkata bijak,"Kasihan si Mas kalau harus pindah sekolah, menyesuaikan dengan lingkungan yang baru. Dan kita juga bisa berhemat. Ayah bisa kos saja, tapi kalau kita sekeluarga pindah, paling tidak kita kan harus mengontrak rumah," begitu alasan suamiku. Dan aku hanya bisa menurut karena alasannya memang cukup masuk akal. Kami masih memerlukan biaya yang besar untuk pendidikan dua buah hati kami. Jadi menurut suamiku, aku dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta, sementara suamiku menjadi suami mingguan, yang artinya seminggu sekali kami bertemu.
Tidak ada masalah yang cukup berarti, semua dapat berjalan lancar sesuai rencana. Jika awalnya aku masih sering melamun dan merindukan kehadiran suamiku, lama-lama aku terbiasa. Jika sebelumnya aku adalah ibu rumah tangga yang amat tergantung pada suami, lama-lama aku terbiasa mandiri dan memutuskan segalanya sendiri. Bahkan aku pun nekat belajar naik motor dan menyetir mobil, meskipun dengan perasaan takut yang amat. Dua kali aku terjatuh saat belajar naik motor dan cukup meninggalkan luka di lutut. Ketika suamiku pulang dan mengetahui hal itu, ia terlihat sangat khawatir. Dan aku merasa sangat bersyukur mempunyai suami sebaik dia. Untuk menjaga keselamatanku, suamiku menyarankan agar aku mengambil kursus setir mobil. Awalnya aku menolak. Hanya ada satu alasan, aku takut menabrak seseorang. Aku malas berurusan dengan polisi dan merasa tak tega bila harus menabrak seseorang.
Mendengar alasanku itu, suamiku hanya tersenyum bijak. Seperti biasa ia memberiku masukan panjang lebar. "Bunda harus yakin semua akan baik-baik saja. Agar tidak merugikan orang lain, Bunda harus canggih dulu menyetir, makanya ikut kursus setir mobil. kalau sudah pandai, baru turun ke jalan. Yang penting pembiasaan. Ayah percaya Bunda pasti bisa," begitulah suamiku, selalu memberiku semangat dan dorongan. Hingga akhirnya, msti dengan menahan ketakutan yang sangat, aku mulai mendaftar kurus menyetir di dekat sekolah anakku. Awalnya aku menyetir sangat perlahan dan banyak mobil di belakangku yang mungkin karena tidak sabar, membunyikan klakson berkali-kali. Aku langsung gugup, tapi instrukturku menyuruh untuk tetap tenang dan tidak perlu dihiraukan. Yang penting kita tetap berjalan pada jalur yang benar, demikian katanya. Begitulah, akhirnya dalam beberapa pekan aku mahir menyetir mobil sendiri sehingga tak lagi tergantung pada sopir. Diam-diam aku menikmati kemandirianku. Aku menikmati kesendirianku. Waktu luangku cukup banyak. hanya di akhir pekan aku benar-benar tak punya waktu luang karena ada suami di rumah. tapi aku tetap dapat menikmati saat-saat itu.
Hingga pada suatu hari, suamiku menelpon tak bisa pulang tiap minggu. Karena kantornya sedang menghadapi masalah, jadi tunjangan untuk pegawai mengalami pemangkasan di sana-sini. Masih menurut cerita suamiku, banyak karyawan yang mengalami phk. Kami bersyukur karena suamiku masih dipertahankan, dalam arti tidak di-phk tapi mengalami pemangkasan tunjangan di sana-sini. Dan seperti biasa, aku tak keberatan bila jadwal pulang suamiku menjadi dua minggu sekali, bahkan kadang tiga minggu sekali hingga sampai akhirnya sebulan sekali. Saat itu aku merasakan ada perubahan pada sikap suamiku. Suamiku tak lagi sehangat dan secerah dulu. Mungkin karena kantornya sedang ada masalah, demikian pikirku. Setiap pulang, ia lebih banyak diam. Aku tahu betul sifat suamiku, kalau sudah diam jangan ditanya macam-macam, bisa marah dia. Jadi aku hanya menunggu suamiku menceritakan apa yang menganggu pikirannya. Biasanya ia akan kembali bersikap biasa bila masalahnya sudah terseleesaikan. Aku menganggapnya sebagai bagian dari ego laki-laki yang harus dihormati. Mungkin ia tak ingin kelihatan lemah karena sedang ada masalah. Jadi yang bisa aku lakukan bila suamiku pulang dalam keadaan diam hanyalah menunggunya. Menunggunya bicara dan mengerem keinginanku untuk menceritakan masalah yang aku hadapi selama dia tak ada di rumah.
Tak jarang suamiku pulang dengan wajah ceria. Sikapnya sangat lembut dan memanjakan aku dan anak-anak. Berbagai hadiah bagus ia bawa. Pun pada ulang tahun pernikahan kami kemarin, suamiku tampak begitu mesra dan romantis. Sama anak-anak juga begitu. Suamiku sangat sabar meladeni kerewelan dua jagoan kecil kami. Menemani berenang seharian dilanjutkan outbond. Saat itu aku merasa sangat bersyukur. Untuk seorang suami yang baik dan ayah yang sempurna.
Aku sama sekali tak berpikir bahwa begitulah cara laki-laku menutupi rasa bersalahnya. Memanjakan dan mencurahkan segala perhatiannya pada istri dan anak-anaknya. Ketika semua terkuak, aku sungguh syock. Aku mencoba untuk menerimanya dan berharap ia bisa kembali, ke tengah-tengah keluarga kecil kami. Tapi semua sudah terlambat. Aku harus mampu menerima kenyataan ini. Aku akan tetap membawa anak-anak terbang tinggi, meski hanya dengan satu sayap.
"Aku sangat mencintaimu, Shania. Kau adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai, sepenuh hatiku. Hanya kaulah satu-satunya perempuan dalam hidupku, ibu anak-anakku..."
Masih terngiang kata-kata suamiku. Dulu aku tak percaya dan menganggap ia hanya gombal. Tapi sekarang aku percaya. Mungkin ia benar, hanya aku, satu-satunya perempuan, yang mengisi hidupnya. Ketika akhirnya aku tahu bahwa suamiku ternyata seorang gay.
Atasannya di kantor adalah mantan pacar gay suamiku dulu. Hubungan keduanya sempat terputus karena pacar gay suamiku pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah. Saat itulah suamiku bertemu denganku yang saat itu aku juga sedang patah hati. Akhirnya karena merasa cocok dan mempunyai teman bicara, kami menjadi dekat dan akhirnya menikah. Suamiku tak pernah menceritakan masa lalunya itu dan aku pun tak pernah mengoreknya. Bagiku tiap orang mempunyai rahasia masa lalu, begitu juga aku. Jadi aku berusaha menerima suamiku apa adanya, pun lengkap dengan semua cerita masa lalunya. Kami sepakat menutup masa lalu itu dan membuka lembaran baru sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai.
Satu hal yang dulu tak kupahami, masa lalu ternyata bisa mengajak seseorang kembali untuk memasukinya. Dan ketika hal itu menimpa suamiku, tanganku, cintaku dan cinta anak-anak ternyata tak mampu mencegahnya untuk tetap berpijak pada kenyataan masa kini. Suamiku telah kembali pada cinta masa lalunya. Dan aku, harus tetap bertahan merajut masa depan bersama anak-anak...
Kupandang sekali lagi gedung itu, sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya. Akhirnya semua selesai sudah di sini. Ada beban berat yang pelan-pelan terangkat. Seiring segumpal rasa bersalah pada anak-anak. "Maafkan, bila akhirnya Bunda benar-benar memisahkan kalian dari ayah, Sayang..." bisik hatiku. Mataku panas, tapi air mata ini telah kering.
Aku hampir tak percaya. Dua jiwa yang dulu saling mencintai, kini saling membenci. Dua hati yang dulu mengikat janji, setia sehidup semati, kini pulang sendiri-sendiri. Tak ada lagi elusan lembut, senyum hangat atau sekedar sapa yang sejukkan jiwa. Begitu sidang usai, suamiku -lebih tepatnya mantan suami- langsung tergesa masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja. Aku mencoba berbesar hati dengan sikapnya. Suamiku mungkin masih marah dan tak menginginkan perpisahan ini, tepatnya mungkin tak sanggup berpisah dengan anak-anak. Tapi keputusanku sudah bulat. Inilah hidupku. Aku hanyalah wanita biasa. Aku bukan Aisha yang mengijinkan Fahri -suaminya- menikahi Maria dalam Ayat-ayat Cinta. Pun aku bukan Humaera yang memaksa Attar menikahi May, dalam Munajah Cinta. Semua hanyalah cerita dongeng. Aku hidup dalam kenyataan. Dan tak ada kenyataan seindah dongeng.
Katanya perempuan memiliki perasaan yang lembut dan insting yang kuat. Tapi kemana perginya perasaan itu, ketika kujumpai suatu hari suamiku begitu wangi dan berseri-seri? Aku justru bangga karena suamiku betah di kantornya yang baru dan menyukai pekerjaannya. Karena aku paling sedih bila suamiku mengeluh stress dengan pekerjannnya. Jadi selama pindah ke kantor yang baru, sungguh aku tak punya perasaan apa-apa melihat suamiku tiap hari semangat berangkat kerja dan mendapat posisi yang bagus. Dia memang jadi lebih sering pulang malam, lembur, begitu alasannya selalu, dengan lembut dan makin memanjakanku. Juga limpahan materi menandakan ia memang benar-benar bekerja keras mencari nafkah buat kami sekeluarga. Sungguh aku tak pernah curiga.
Ketika kudengar desas desus bahwa suamiku ada affair dengan salah seorang atasannya, kuanggap itu hanya isu yang dihembuskan oleh orang yang tak suka dengan kebahagiaan keluarga kecil kami. Aku tahu, suamiku memang cerdas dan tekun, jadi wajar kalau dia disukai atasan dan mendapat peran yang penting. Karena sejak suamiku bergabung, perusahaan itu semakin berkembang dan maju.
Tapi sepandai-pandai tupai meloncat, ia akan jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akan tercium juga. Awalnya adalah saat suamiku dipindahtugaskan ke luar kota. "Bunda dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta saja, toh Ayah pergi tak lama. Setiap Sabtu dan Minggu Ayah akan pulang ke Jakarta. Naik pesawat hanya satu jam kan..." begitu kata suamiku saat akan berangkat. Pun saat aku merasa kerepotan mengurus anak-anak sendiri, suamiku dengan lembut kembali berkata bijak,"Kasihan si Mas kalau harus pindah sekolah, menyesuaikan dengan lingkungan yang baru. Dan kita juga bisa berhemat. Ayah bisa kos saja, tapi kalau kita sekeluarga pindah, paling tidak kita kan harus mengontrak rumah," begitu alasan suamiku. Dan aku hanya bisa menurut karena alasannya memang cukup masuk akal. Kami masih memerlukan biaya yang besar untuk pendidikan dua buah hati kami. Jadi menurut suamiku, aku dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta, sementara suamiku menjadi suami mingguan, yang artinya seminggu sekali kami bertemu.
Tidak ada masalah yang cukup berarti, semua dapat berjalan lancar sesuai rencana. Jika awalnya aku masih sering melamun dan merindukan kehadiran suamiku, lama-lama aku terbiasa. Jika sebelumnya aku adalah ibu rumah tangga yang amat tergantung pada suami, lama-lama aku terbiasa mandiri dan memutuskan segalanya sendiri. Bahkan aku pun nekat belajar naik motor dan menyetir mobil, meskipun dengan perasaan takut yang amat. Dua kali aku terjatuh saat belajar naik motor dan cukup meninggalkan luka di lutut. Ketika suamiku pulang dan mengetahui hal itu, ia terlihat sangat khawatir. Dan aku merasa sangat bersyukur mempunyai suami sebaik dia. Untuk menjaga keselamatanku, suamiku menyarankan agar aku mengambil kursus setir mobil. Awalnya aku menolak. Hanya ada satu alasan, aku takut menabrak seseorang. Aku malas berurusan dengan polisi dan merasa tak tega bila harus menabrak seseorang.
Mendengar alasanku itu, suamiku hanya tersenyum bijak. Seperti biasa ia memberiku masukan panjang lebar. "Bunda harus yakin semua akan baik-baik saja. Agar tidak merugikan orang lain, Bunda harus canggih dulu menyetir, makanya ikut kursus setir mobil. kalau sudah pandai, baru turun ke jalan. Yang penting pembiasaan. Ayah percaya Bunda pasti bisa," begitulah suamiku, selalu memberiku semangat dan dorongan. Hingga akhirnya, msti dengan menahan ketakutan yang sangat, aku mulai mendaftar kurus menyetir di dekat sekolah anakku. Awalnya aku menyetir sangat perlahan dan banyak mobil di belakangku yang mungkin karena tidak sabar, membunyikan klakson berkali-kali. Aku langsung gugup, tapi instrukturku menyuruh untuk tetap tenang dan tidak perlu dihiraukan. Yang penting kita tetap berjalan pada jalur yang benar, demikian katanya. Begitulah, akhirnya dalam beberapa pekan aku mahir menyetir mobil sendiri sehingga tak lagi tergantung pada sopir. Diam-diam aku menikmati kemandirianku. Aku menikmati kesendirianku. Waktu luangku cukup banyak. hanya di akhir pekan aku benar-benar tak punya waktu luang karena ada suami di rumah. tapi aku tetap dapat menikmati saat-saat itu.
Hingga pada suatu hari, suamiku menelpon tak bisa pulang tiap minggu. Karena kantornya sedang menghadapi masalah, jadi tunjangan untuk pegawai mengalami pemangkasan di sana-sini. Masih menurut cerita suamiku, banyak karyawan yang mengalami phk. Kami bersyukur karena suamiku masih dipertahankan, dalam arti tidak di-phk tapi mengalami pemangkasan tunjangan di sana-sini. Dan seperti biasa, aku tak keberatan bila jadwal pulang suamiku menjadi dua minggu sekali, bahkan kadang tiga minggu sekali hingga sampai akhirnya sebulan sekali. Saat itu aku merasakan ada perubahan pada sikap suamiku. Suamiku tak lagi sehangat dan secerah dulu. Mungkin karena kantornya sedang ada masalah, demikian pikirku. Setiap pulang, ia lebih banyak diam. Aku tahu betul sifat suamiku, kalau sudah diam jangan ditanya macam-macam, bisa marah dia. Jadi aku hanya menunggu suamiku menceritakan apa yang menganggu pikirannya. Biasanya ia akan kembali bersikap biasa bila masalahnya sudah terseleesaikan. Aku menganggapnya sebagai bagian dari ego laki-laki yang harus dihormati. Mungkin ia tak ingin kelihatan lemah karena sedang ada masalah. Jadi yang bisa aku lakukan bila suamiku pulang dalam keadaan diam hanyalah menunggunya. Menunggunya bicara dan mengerem keinginanku untuk menceritakan masalah yang aku hadapi selama dia tak ada di rumah.
Tak jarang suamiku pulang dengan wajah ceria. Sikapnya sangat lembut dan memanjakan aku dan anak-anak. Berbagai hadiah bagus ia bawa. Pun pada ulang tahun pernikahan kami kemarin, suamiku tampak begitu mesra dan romantis. Sama anak-anak juga begitu. Suamiku sangat sabar meladeni kerewelan dua jagoan kecil kami. Menemani berenang seharian dilanjutkan outbond. Saat itu aku merasa sangat bersyukur. Untuk seorang suami yang baik dan ayah yang sempurna.
Aku sama sekali tak berpikir bahwa begitulah cara laki-laku menutupi rasa bersalahnya. Memanjakan dan mencurahkan segala perhatiannya pada istri dan anak-anaknya. Ketika semua terkuak, aku sungguh syock. Aku mencoba untuk menerimanya dan berharap ia bisa kembali, ke tengah-tengah keluarga kecil kami. Tapi semua sudah terlambat. Aku harus mampu menerima kenyataan ini. Aku akan tetap membawa anak-anak terbang tinggi, meski hanya dengan satu sayap.
"Aku sangat mencintaimu, Shania. Kau adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai, sepenuh hatiku. Hanya kaulah satu-satunya perempuan dalam hidupku, ibu anak-anakku..."
Masih terngiang kata-kata suamiku. Dulu aku tak percaya dan menganggap ia hanya gombal. Tapi sekarang aku percaya. Mungkin ia benar, hanya aku, satu-satunya perempuan, yang mengisi hidupnya. Ketika akhirnya aku tahu bahwa suamiku ternyata seorang gay.
Atasannya di kantor adalah mantan pacar gay suamiku dulu. Hubungan keduanya sempat terputus karena pacar gay suamiku pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah. Saat itulah suamiku bertemu denganku yang saat itu aku juga sedang patah hati. Akhirnya karena merasa cocok dan mempunyai teman bicara, kami menjadi dekat dan akhirnya menikah. Suamiku tak pernah menceritakan masa lalunya itu dan aku pun tak pernah mengoreknya. Bagiku tiap orang mempunyai rahasia masa lalu, begitu juga aku. Jadi aku berusaha menerima suamiku apa adanya, pun lengkap dengan semua cerita masa lalunya. Kami sepakat menutup masa lalu itu dan membuka lembaran baru sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai.
Satu hal yang dulu tak kupahami, masa lalu ternyata bisa mengajak seseorang kembali untuk memasukinya. Dan ketika hal itu menimpa suamiku, tanganku, cintaku dan cinta anak-anak ternyata tak mampu mencegahnya untuk tetap berpijak pada kenyataan masa kini. Suamiku telah kembali pada cinta masa lalunya. Dan aku, harus tetap bertahan merajut masa depan bersama anak-anak...
Senin, 26 Mei 2008
Purnama di ujung senja
Perempuan itu sangat mencintai purnama. Entah mengapa. Hatinya selalu saja terpenjara oleh kilauan bulat kuning berpendar itu. Bila langit cerah dan tak ada awan merintang, purnama selalu saja menjadi saat istimewa.
Ia tak tahu pasti, kapan mula ia menyukai bulan purnama. Mungkin sejak kepergian orang-orang terkasih dalam hidupnya, mungkin juga sebelum itu. Mungkin saat ia merasa tak memiliki siapa pun di dunia ini. Mungkin saat kesedihan dan kesendirian itu begitu mendera. Entahlah.
Memandang purnama selalu memberi warna tersendiri. Di mana ia bisa membayangkan bertemu dengan semua yang pernah merasa dimilikinya. Orang-orang yang ia sayangi dan amat menyayanginya. Orang-orang terkasih yang kini lenyap dari kehidupannya. Terengut oleh tangan perpisahan yang tak pernah dimengertinya. Yang tak jua dikehendakinya. Ada rasa perih yang selalu saja tersisa. Meski sekuat tenaga ia coba melupakan semua luka itu. Namun perih itu tetap tertinggal jauh di ulu hati. Entah sampai kapan.
Bagai bunga ilalang, ia terburai, terbang entah ke mana angin membawa. Jauh dari rona masa kecil, jauh dari orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Kadang ada rasa asing. Tapi ia selalu coba yakinkan, bahwa disinilah ia kini. Dikelilingi kebahagiaan baru, jiwa-jiwa baru dan semua yang awalnya terasa aneh. Tapi ia harus lalui, tak ada pilihan lain. Bukan, bukan karena tak ada pilihan lain. Tepatnya, karena ia telah memilih.
Perempuan itu telah memilih untuk melanjutkan hidupnya. Hanya ada dua pilihan, menyerah atau terus berjuang. Ia percaya tak ada kesempatan kedua. Dan menyerah bukanlah sifatnya. Di balik segala kelembutan dan kerapuhannya, sesungguhnya ia adalah perempuan yang tegar. Tak akan menyerah pada kerasnya kehidupan. Ia memilih untuk berjuang. Meski dengan hati hancur dan patah. Meski dengan kedua sayap yang terluka. Meski dengan asa yang porak poranda. Ia ingin lalui semuanya. Menikmati semua luka, sakit hati, perih jiwa, atau entah apa namanya. Terlalu banyak sesak yang coba tak dihiraukannya. Ia pun tak yakin akan mampu lalui semuanya. Ia tak yakin, sangat tak yakin. Karena saat itu hatinya begitu rapuh, begitu gamang.
Purnama telah menyelamatkan hati perempuan itu. Saat kecil dulu, sang ibu sering berpesan untuk melakukan puasa tiga hari pada pertengahan bulan. Kata ibu, itu puasa ayyaamul biidh. Allah akan menyayangi dan mengasihi orang-orang yang mau melaksanakannya. Setelah semua yang disayanginya pergi, kepada siapa lagi ia mengharap kasih sayang selain pada Allah?
Tak ada siapa-siapa lagi. Ia selalu sedih bila teringat ia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ayah, ibu, juga kekasih hati. Semua telah pergi dengan jalannya sendiri-sendiri. Yang tak bisa dipahaminya. Atau ia memang sengaja menutup hatinya untuk bisa memahami bahwa semua memang sudah seharusnya pergi. Sudah tiba waktunya untuk sendiri.
Jaga iman yang sedikit ini, ya Allah. Begitu pintanya selalu. Ia merasa ia bukanlah seorang hamba yang baik. Sholatnya belum sempurna, bacaan Al Qur’annya juga sangat jauh dari sempurna. Ia hanya bertekad menjadikan Allah sebagai sandaran hidupnya kini. Setelah semua luka dan perih jiwa. Setelah tak ada lagi yang tersisa. Semua yang disayangi dalam hidupnya akan pergi. Namun, kasih Allah akan abadi dan tak akan pernah membuat luka di hati.
Hanya Allahlah, satu-satunya tempat bersandar. Yang menemani kesendiriannya. Yang selalu mendengar semua kesahnya. Tempat di mana cairan bening itu bebas terurai. Saat beban berat menyesakkan itu mulai pelan-pelan terangkat. Saat sedikit demi sedikit keyakinan itu bersemi. Yakin bahwa ia tak sendirian menghadapi perih yang menghuni ulu hati.
Saat itulah ia mulai berkawan dengan purnama. Saat makan sahur, sering sinar purnama membias masuk lewat celah genting kaca rumahnya. Dalam kesendirian, purnama setia menemaninya. Menyinari lorong hatinya yang gelap, menghiburnya. Saat memandang purnama itulah ia merasa dirinya terbang, melayang. Dari atas ketinggian itu ia bisa melihat semuanya. Orang-orang terkasih yang dulu pernah hadir dalam hidupnya, yang kini entah dimana. Ia tersenyum dan membayangkan bahwa purnama telah membawanya pergi ke tempat-tempat yang kini tak bisa dikunjunginya. Tempat ia menghabiskan usia belia. Rona masa kecil yang indah. Kebahagiaan yang selalu membuatnya menangis.
Andai saja ia tak harus kehilangan pelabuhan jiwa itu. Andai saja sandaran hati itu tak pergi meninggalkannya. Andai saja belahan jiwa itu masih utuh dimilikinya, mungkin luka itu tak kan pernah menyapa hatinya. Menyisakan goresan perih yang sangat. Namun garis takdir telah berkata, tanpa bisa ditawar.
Ia ingin ikhlas lalui semuanya. Ia ingin. Ingin percaya bahwa semua pasti ada hikmahnya. Ia ingin. Ingin percaya bahwa itu adalah hal terbaik dalam hidupnya. Ia ingin. Ingin yakinkan bahwa semua bukan mimpi. Ia ingin. Inginnya ia. Sungguh ia ingin!
Tapi air mata itu tetap mengalir. Tapi tetap saja ia ingin semua itu hanya mimpi. Tapi tetap saja ia ingin mencari jawab dan penjelasan, mengapa? Ia tak tahu harus bertanya pada siapa. Ia hanya tahu, penjelasan apa pun tak ada arti lagi baginya. Tak akan mengembalikan pelabuhan jiwanya. Tak akan mengantarkan sandaran hatinya. Tak akan menghadirkan belahan jiwanya. Utuh kembali padanya, meski hanya sekejab.
Kehilangan itu begitu dalam. Ia tak ingin tenggelam. Allah, jagalah iman yang sedikit ini. Begitu selalu pintanya. Allahlah, Sang Pencipta purnama yang amat dicintainya itu. Sinarilah hati ini, seperti Kau buat terang malam-malam dengan cahaya purnama-Mu. Perempuan itu tergugu. Dalam sujud panjangnya.
Ia menikmati semua saat-saat sulit itu. Ia lakukan apa saja untuk tetap bertahan. Saat teman-temannya asyik belajar di perpustakaan, perempuan itu sibuk berkutat dengan setumpuk kain yang mesti dijahitnya. Atau tangannya yang kecil dengan terampil membuat kacang telor dan membungkusnya kecil-kecil. Lalu kacang telor yang sudah dikemas itu dimasukkan dalam toples dan ditaruh di kontrakan teman-temannya sesama mahasiswa sambil tak lupa ia menaruh kaleng kecil. Tak sampai satu pekan, kacang dalam toples akan habis dan kaleng kecil itu akan terisi rupiah. Allah selau memberi jalan dalam tiap langkahnya.
Bahkan saat itu, kain-kain yang dijahitnya menjadi busana muslim, selalu laku dan tak pernah ada yang kembali. Ia cukup membeli kain, memotong dan menjahitnya. Lalu menitipkannya di Bursa Kafilah, sebuah toko yang khusus menjual barang-barang berlabel Islam. Yang ada di samping masjid kampusnya. Kadang baju-baju yang sudah jadi itu dipasarkan oleh teman-temannya sesama mahasiswa. Dan untuk itu, ia akan memberikan komisi 15%. Semua dilakukan hanya atas dasar saling percaya.
Ketrampilan itu didapatkannya secara otodidak. Semua berawal dari hobi. Ia sangat menyukai dunia mode. Bahkan mesin jahit peninggalan neneknya itu masih terawat rapi sampai kini. Lewat mesin jahit itu pula semangat juangnya terpompa. Ia berjanji harus bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Meski ia harus bekerja lebih keras. Meski ia harus pandai-pandai memanfaatkan waktu yang tersisa untuk belajar. Ia hanya percaya, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang sangat memperhatikan hamba-hambaNya yang mau berusaha dan tidak bermalas-malasan. Menyerah sebelum berjuang. Ia percaya, rizki harus dijemput, diciptakan. Karena sesungguhnya rizki itu tersimpan di antara tetesan-tetesan keringat dan kerja keras. Keringat tak akan tercipta tanpa kerja keras. Kerja keras tak akan ada tanpa kemauan berusaha.
Dan disinilah ia kini. Di sebuah istana kecil dengan seorang belahan hati dan juga seorang malaikat kecil. Perempuan itu tersenyum penuh syukur. Direngkuhnya tubuh mungil itu dalam dekapannya. Ia sadar kini ia tengah menciptakan kenangan masa kecil pada sebentuk jiwa yang ada dalam genggamnya. Baginya, mengenang masa kecil adalah kebahagiaan yang selalu membuatnya mengangis. Ia tak ingin hal itu dialami oleh buah hatinya. Ia ingin memberikan kebahagiaan masa kecil yang lebih indah, lebih berwarna.
Tapi… duka akan membuatmu menjadi lebih dewasa, Nak. Luka akan mengajarimu banyak hal tentang kehidupan.
“Tetapi, mengapa Bunda menangis?” sebentuk mata bening polos memandangnya penuh tanya. “Bunda menangis karena Bunda bersyukur dapat memilikimu, Anakku. Do’akan Bunda diberi Allah kemampuan untuk memberikan yang terbaik untukmu,” bisik perempuan itu lirih.
Purnama tetap berjalan sesuai rencana. Perempuan itu tetap kerap memandang purnama, di ujung senja usianya. Ia tersenyum. Ia sadar kini ia tengah menciptakan kenangan masa kecil pada sebentuk jiwa bening yang ada dalam genggamnya. Baginya, mengenang masa kecil adalah kebahagiaan yang selalu membuatnya menangis. Ia tak ingin hal itu dialami oleh cucu pertamanya. Ia ingin memberikan kebahagiaan masa kecil yang lebih indah, lebih berwarna.
Tapi… duka akan membuatmu menjadi lebih dewasa, Nak. Luka akan mengajarimu banyak hal tentang kehidupan.
“Tetapi, mengapa Nenek menangis?” sebentuk mata bening polos memandangnya penuh tanya. “Nenek menangis karena Nenek bersyukur diberi kesempatan menimangmu, memandangmu, memelukmu, mencintaimu…”bisiknya lirih.
Perempuan itu tersenyum. Memandang purnama di ujung senja usianya. Tampak kerutan halus di kedua mata beningnya, menandakan ia telah banyak menelan asam garam kehidupan. Hidup, kadang tak ramah, tapi semua mesti dilalui, dan jangan pernah lari.
***
Kubaca sekali lagi tulisan yang terpampang di layar monitor. Akhirnya aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan untuk seseorang yang amat kucintai, mbah putri, tepat setahun setelah kepulangannya menghadap Ilahi Rabbi.
Aku tahu mbah putri telah mengalami banyak peristiwa dalam hidupnya. Mbah putri selalu memberi semangat dan mengajariku untuk tak mudah menyerah pada kerasnya kehidupan. Perempuan yang masih terlihat sehat di usia senja, yang tetap suka memandangi purnama itu telah pergi. Namun semua kenangan, semua cerita yang pernah dituturkannya padaku, cucunya, -saat kami sama-sama menikmati purnama- akan terus hidup dalam ingatanku.
Catatan : Cerpen di atas pernah dimuat di Majalah PARAS edisi Mei Tahun 2008
Ia tak tahu pasti, kapan mula ia menyukai bulan purnama. Mungkin sejak kepergian orang-orang terkasih dalam hidupnya, mungkin juga sebelum itu. Mungkin saat ia merasa tak memiliki siapa pun di dunia ini. Mungkin saat kesedihan dan kesendirian itu begitu mendera. Entahlah.
Memandang purnama selalu memberi warna tersendiri. Di mana ia bisa membayangkan bertemu dengan semua yang pernah merasa dimilikinya. Orang-orang yang ia sayangi dan amat menyayanginya. Orang-orang terkasih yang kini lenyap dari kehidupannya. Terengut oleh tangan perpisahan yang tak pernah dimengertinya. Yang tak jua dikehendakinya. Ada rasa perih yang selalu saja tersisa. Meski sekuat tenaga ia coba melupakan semua luka itu. Namun perih itu tetap tertinggal jauh di ulu hati. Entah sampai kapan.
Bagai bunga ilalang, ia terburai, terbang entah ke mana angin membawa. Jauh dari rona masa kecil, jauh dari orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Kadang ada rasa asing. Tapi ia selalu coba yakinkan, bahwa disinilah ia kini. Dikelilingi kebahagiaan baru, jiwa-jiwa baru dan semua yang awalnya terasa aneh. Tapi ia harus lalui, tak ada pilihan lain. Bukan, bukan karena tak ada pilihan lain. Tepatnya, karena ia telah memilih.
Perempuan itu telah memilih untuk melanjutkan hidupnya. Hanya ada dua pilihan, menyerah atau terus berjuang. Ia percaya tak ada kesempatan kedua. Dan menyerah bukanlah sifatnya. Di balik segala kelembutan dan kerapuhannya, sesungguhnya ia adalah perempuan yang tegar. Tak akan menyerah pada kerasnya kehidupan. Ia memilih untuk berjuang. Meski dengan hati hancur dan patah. Meski dengan kedua sayap yang terluka. Meski dengan asa yang porak poranda. Ia ingin lalui semuanya. Menikmati semua luka, sakit hati, perih jiwa, atau entah apa namanya. Terlalu banyak sesak yang coba tak dihiraukannya. Ia pun tak yakin akan mampu lalui semuanya. Ia tak yakin, sangat tak yakin. Karena saat itu hatinya begitu rapuh, begitu gamang.
Purnama telah menyelamatkan hati perempuan itu. Saat kecil dulu, sang ibu sering berpesan untuk melakukan puasa tiga hari pada pertengahan bulan. Kata ibu, itu puasa ayyaamul biidh. Allah akan menyayangi dan mengasihi orang-orang yang mau melaksanakannya. Setelah semua yang disayanginya pergi, kepada siapa lagi ia mengharap kasih sayang selain pada Allah?
Tak ada siapa-siapa lagi. Ia selalu sedih bila teringat ia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ayah, ibu, juga kekasih hati. Semua telah pergi dengan jalannya sendiri-sendiri. Yang tak bisa dipahaminya. Atau ia memang sengaja menutup hatinya untuk bisa memahami bahwa semua memang sudah seharusnya pergi. Sudah tiba waktunya untuk sendiri.
Jaga iman yang sedikit ini, ya Allah. Begitu pintanya selalu. Ia merasa ia bukanlah seorang hamba yang baik. Sholatnya belum sempurna, bacaan Al Qur’annya juga sangat jauh dari sempurna. Ia hanya bertekad menjadikan Allah sebagai sandaran hidupnya kini. Setelah semua luka dan perih jiwa. Setelah tak ada lagi yang tersisa. Semua yang disayangi dalam hidupnya akan pergi. Namun, kasih Allah akan abadi dan tak akan pernah membuat luka di hati.
Hanya Allahlah, satu-satunya tempat bersandar. Yang menemani kesendiriannya. Yang selalu mendengar semua kesahnya. Tempat di mana cairan bening itu bebas terurai. Saat beban berat menyesakkan itu mulai pelan-pelan terangkat. Saat sedikit demi sedikit keyakinan itu bersemi. Yakin bahwa ia tak sendirian menghadapi perih yang menghuni ulu hati.
Saat itulah ia mulai berkawan dengan purnama. Saat makan sahur, sering sinar purnama membias masuk lewat celah genting kaca rumahnya. Dalam kesendirian, purnama setia menemaninya. Menyinari lorong hatinya yang gelap, menghiburnya. Saat memandang purnama itulah ia merasa dirinya terbang, melayang. Dari atas ketinggian itu ia bisa melihat semuanya. Orang-orang terkasih yang dulu pernah hadir dalam hidupnya, yang kini entah dimana. Ia tersenyum dan membayangkan bahwa purnama telah membawanya pergi ke tempat-tempat yang kini tak bisa dikunjunginya. Tempat ia menghabiskan usia belia. Rona masa kecil yang indah. Kebahagiaan yang selalu membuatnya menangis.
Andai saja ia tak harus kehilangan pelabuhan jiwa itu. Andai saja sandaran hati itu tak pergi meninggalkannya. Andai saja belahan jiwa itu masih utuh dimilikinya, mungkin luka itu tak kan pernah menyapa hatinya. Menyisakan goresan perih yang sangat. Namun garis takdir telah berkata, tanpa bisa ditawar.
Ia ingin ikhlas lalui semuanya. Ia ingin. Ingin percaya bahwa semua pasti ada hikmahnya. Ia ingin. Ingin percaya bahwa itu adalah hal terbaik dalam hidupnya. Ia ingin. Ingin yakinkan bahwa semua bukan mimpi. Ia ingin. Inginnya ia. Sungguh ia ingin!
Tapi air mata itu tetap mengalir. Tapi tetap saja ia ingin semua itu hanya mimpi. Tapi tetap saja ia ingin mencari jawab dan penjelasan, mengapa? Ia tak tahu harus bertanya pada siapa. Ia hanya tahu, penjelasan apa pun tak ada arti lagi baginya. Tak akan mengembalikan pelabuhan jiwanya. Tak akan mengantarkan sandaran hatinya. Tak akan menghadirkan belahan jiwanya. Utuh kembali padanya, meski hanya sekejab.
Kehilangan itu begitu dalam. Ia tak ingin tenggelam. Allah, jagalah iman yang sedikit ini. Begitu selalu pintanya. Allahlah, Sang Pencipta purnama yang amat dicintainya itu. Sinarilah hati ini, seperti Kau buat terang malam-malam dengan cahaya purnama-Mu. Perempuan itu tergugu. Dalam sujud panjangnya.
Ia menikmati semua saat-saat sulit itu. Ia lakukan apa saja untuk tetap bertahan. Saat teman-temannya asyik belajar di perpustakaan, perempuan itu sibuk berkutat dengan setumpuk kain yang mesti dijahitnya. Atau tangannya yang kecil dengan terampil membuat kacang telor dan membungkusnya kecil-kecil. Lalu kacang telor yang sudah dikemas itu dimasukkan dalam toples dan ditaruh di kontrakan teman-temannya sesama mahasiswa sambil tak lupa ia menaruh kaleng kecil. Tak sampai satu pekan, kacang dalam toples akan habis dan kaleng kecil itu akan terisi rupiah. Allah selau memberi jalan dalam tiap langkahnya.
Bahkan saat itu, kain-kain yang dijahitnya menjadi busana muslim, selalu laku dan tak pernah ada yang kembali. Ia cukup membeli kain, memotong dan menjahitnya. Lalu menitipkannya di Bursa Kafilah, sebuah toko yang khusus menjual barang-barang berlabel Islam. Yang ada di samping masjid kampusnya. Kadang baju-baju yang sudah jadi itu dipasarkan oleh teman-temannya sesama mahasiswa. Dan untuk itu, ia akan memberikan komisi 15%. Semua dilakukan hanya atas dasar saling percaya.
Ketrampilan itu didapatkannya secara otodidak. Semua berawal dari hobi. Ia sangat menyukai dunia mode. Bahkan mesin jahit peninggalan neneknya itu masih terawat rapi sampai kini. Lewat mesin jahit itu pula semangat juangnya terpompa. Ia berjanji harus bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Meski ia harus bekerja lebih keras. Meski ia harus pandai-pandai memanfaatkan waktu yang tersisa untuk belajar. Ia hanya percaya, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang sangat memperhatikan hamba-hambaNya yang mau berusaha dan tidak bermalas-malasan. Menyerah sebelum berjuang. Ia percaya, rizki harus dijemput, diciptakan. Karena sesungguhnya rizki itu tersimpan di antara tetesan-tetesan keringat dan kerja keras. Keringat tak akan tercipta tanpa kerja keras. Kerja keras tak akan ada tanpa kemauan berusaha.
Dan disinilah ia kini. Di sebuah istana kecil dengan seorang belahan hati dan juga seorang malaikat kecil. Perempuan itu tersenyum penuh syukur. Direngkuhnya tubuh mungil itu dalam dekapannya. Ia sadar kini ia tengah menciptakan kenangan masa kecil pada sebentuk jiwa yang ada dalam genggamnya. Baginya, mengenang masa kecil adalah kebahagiaan yang selalu membuatnya mengangis. Ia tak ingin hal itu dialami oleh buah hatinya. Ia ingin memberikan kebahagiaan masa kecil yang lebih indah, lebih berwarna.
Tapi… duka akan membuatmu menjadi lebih dewasa, Nak. Luka akan mengajarimu banyak hal tentang kehidupan.
“Tetapi, mengapa Bunda menangis?” sebentuk mata bening polos memandangnya penuh tanya. “Bunda menangis karena Bunda bersyukur dapat memilikimu, Anakku. Do’akan Bunda diberi Allah kemampuan untuk memberikan yang terbaik untukmu,” bisik perempuan itu lirih.
Purnama tetap berjalan sesuai rencana. Perempuan itu tetap kerap memandang purnama, di ujung senja usianya. Ia tersenyum. Ia sadar kini ia tengah menciptakan kenangan masa kecil pada sebentuk jiwa bening yang ada dalam genggamnya. Baginya, mengenang masa kecil adalah kebahagiaan yang selalu membuatnya menangis. Ia tak ingin hal itu dialami oleh cucu pertamanya. Ia ingin memberikan kebahagiaan masa kecil yang lebih indah, lebih berwarna.
Tapi… duka akan membuatmu menjadi lebih dewasa, Nak. Luka akan mengajarimu banyak hal tentang kehidupan.
“Tetapi, mengapa Nenek menangis?” sebentuk mata bening polos memandangnya penuh tanya. “Nenek menangis karena Nenek bersyukur diberi kesempatan menimangmu, memandangmu, memelukmu, mencintaimu…”bisiknya lirih.
Perempuan itu tersenyum. Memandang purnama di ujung senja usianya. Tampak kerutan halus di kedua mata beningnya, menandakan ia telah banyak menelan asam garam kehidupan. Hidup, kadang tak ramah, tapi semua mesti dilalui, dan jangan pernah lari.
***
Kubaca sekali lagi tulisan yang terpampang di layar monitor. Akhirnya aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan untuk seseorang yang amat kucintai, mbah putri, tepat setahun setelah kepulangannya menghadap Ilahi Rabbi.
Aku tahu mbah putri telah mengalami banyak peristiwa dalam hidupnya. Mbah putri selalu memberi semangat dan mengajariku untuk tak mudah menyerah pada kerasnya kehidupan. Perempuan yang masih terlihat sehat di usia senja, yang tetap suka memandangi purnama itu telah pergi. Namun semua kenangan, semua cerita yang pernah dituturkannya padaku, cucunya, -saat kami sama-sama menikmati purnama- akan terus hidup dalam ingatanku.
Catatan : Cerpen di atas pernah dimuat di Majalah PARAS edisi Mei Tahun 2008
Langganan:
Komentar (Atom)