Rabu, 02 Juli 2008

Merpati Tak Pernah Terbang Tinggi

“Dari mana saja?! Pergi tak bilang-bilang, perempuan macam apa kau!” suara laki-laki itu terdengar menggelegar. Matanya berkilat-kilat menahan amarah. Tangannya siap melayang menampar pipiku, seperti biasa.

Aku segera beranjak, pergi menghindar. Tapi sebelah tangannya sempat mengenai pelipisku. Terasa panas dan perih. Tapi tak seperih sakit di hatiku. Batinku menangis. Tapi sekuat tenaga aku tahan agar tak mengeluarkan air mata di hadapannya. Kalau melihatku menangis, suamiku bukannya jatuh kasihan, tapi kemarahannya akan semakin menjadi.

“Sri! Ayo jawab!” katanya membentak.

Aku membisu, percuma saja dijawab. Laki-laki itu akan makin murka. Hari ini memang waktuku mengambil gaji mantan suamiku buat anak-anak. Aku mengambilnya sendiri di bagian tata usaha kampus, seperti biasa saat kami belum bercerai. Mas Bram, suami keduaku, sudah tahu akan hal ini, aku toh tak pernah menutup-nutupi dan menceritakan apa adanya. Dan seperti biasa ia akan merampas uang itu dariku. Untuk apa lagi kalau bukan untuk melampiaskan kesenangan pribadinya. Aku tak tahu, kenapa dulu aku bisa menikah lagi dengan suami yang kasar, pengangguran dan sungguh tak tahu diri. Jika saja saat itu aku tak dikuasai emosi sesaat.

Di dalam kamar, kutemui dua buah hatiku yang merapat ke tembok, ketakutan. Segera aku peluk keduanya.

“Semua akan baik-baik saja. Mama akan selalu bersama kalian…” kataku menahan tangis.

Mata bulat Liana basah, “Liana takut Ma, kita pulang saja…”

Pulang. Hatiku membiru. Yang dimaksud Liana dengan pulang adalah pulang ke rumah lama kami. Terngiang kembali perkataan Mas Rizal, "Sri, kita adalah merpati yang tak pernah terbang tinggi. Karena rumah adalah tempat terindah untuk kembali." Ah, kenangan itu.

Kupandang Dimas, sulungku. Anak itu hanya diam. Tapi aku tahu, hatinya pasti terluka. Ada rasa bersalah menyusup dalam hatiku. Sungguh keadaan rumah tanggaku selama setahun ini sangat tak bagus buat perkembangan anak-anak. Gelegar amarah, tamparan, umpatan, caci maki, sudah menjadi santapan sehari-hari. Tak ada ketenangan dan kedamaian. Berbeda sekali dengan suasana sebelum akhirnya aku memutuskan menikah dengan Bram, suami keduaku.

Kenangan itu selalu datang lagi. Aku tak ingin membanding-bandingkan seseorang, karena semua orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mas Rizal, papanya anak-anak, adalah tipe suami yang lembut. Jangankan menampar, membentak saja tak pernah. Mungkin karena Mas Rizal dibesarkan dalam keluarga priyayi, sehingga amat menjaga etika dan sopan santun. Bila ia marah sama anak-anak, cukup matanya sedikit melotot, anak-anak sudah langsung takut. Atau bila ia marah padaku, bukannya mengumpat atau mengeluarkan amarahnya sampai habis, Mas Rizal malah memilih diam. Mendiamkanku berhari-hari.

Di awal-awal pernikahan aku tidak tahu, kenapa ia diam setiap kuajak bicara atau kutawari sesuatu. Ternyata saat itu ia sedang marah padaku. Bila ingat itu, aku selalu tersenyum sendiri. Aku selalu bilang padanya, untuk terbuka mengatakan apa saja padaku, jangan dipendam dan jangan disimpan sendiri. Sejak saat itu sikap Mas Rizal pelan-pelan berubah. Aku yang merasa bersalah spontan minta maaf padanya. Aku bersyukur karena Mas Rizal bukan orang yang suka memendam amarah.

Di mataku, Mas Rizal adalah suami sempurna. Satu-satunya kesalahannya yang membuat aku menangis dan tak termaafkan olehku adalah ketika ia ketahuan telah menikah lagi.

Suatu hari, saat suamiku pergi mengajar, hand phone-nya ketinggalan di rumah. Sekitar jam sembilan pagi, hp nya berdering. Tanpa kecurigaan apa pun, aku angkat hp-nya.

“Halo?”

“Ya, halo. Ini siapa?”

“Maaf, bisa bicara dengan Bapak Rizal Bu? Ini dari Rumah Sakit Sarjito”

“Ada apa ya Pak? Bapak lagi ngajar, hp-nya ketinggalan di rumah. Ada pesan, Pak? Nanti saya sampaikan”

“Tolong cepat disampaikan ya Bu. Istri Pak Rizal masuk rumah sakit! Kami butuh tanda tangannya untuk segera dilakukan operasi”

Klik. Telepon dimatikan. Aku tertegun. Tak salahkah pendengaranku? Istri Mas Rizal? Istri yang mana? Aku istrinya dan aku baik-baik saja. Aku tak sakit apa-apa, tak jugaakan dioperasi. Apakah telepon salah sambung?

Segera aku telpon kampus, pun masih dengan perasaan biasa. Aku hanya ingin menggodanya.

“Halo, Mas, ada telpon salah sambung dari Sarjito, masak ia bilang istrimu akan operasi, ada-ada saja…” kataku sambil tertawa.

Di luar dugaanku, suamiku hanya diam tak menyahut.

“Mas…Mas… dengar nggak sih”

“Eh…eh…iya…” jawabnya terbata sambil segera menutup telpon. Aku heran. Kenapa Mas Rizal jadi gugup begitu.

Siang itu, aku sudah janjian sama pengurus POMG untuk menjenguk salah satu orang tua yang melahirkan. Sebelum menjemput anak-anak pulang sekolah, kami bersama-sama ke rumah sakit.

Alangkah terkejutnya aku saat sebelum memasuki ruangan, aku melihat Mas Rizal sedang berbincang serius dengan seorang dokter. Di sebelahnya tampak seorang wanita tergolek lemah dengan selang infuse. Tampaknya wanita itu sedang sakit, aku melihatnya memejamkan mata, didorong dua suster memasuki ruang perawatan.

Ketika bertatap mata denganku, Mas Rizal sangat terkejut dan tak dapat menutupi kegugupannya. Apalagi saat salah seorang temanku menyapa Mas Rizal.

“Mbak Alin sudah dioperasi ya, Mas? Semoga cepat baikan ya. Amin”

“Iya, terima kasih,” jawab Mas Rizal gugup.

Aku hanya berdiri mematung. Kepalaku penuh tanya, siapakah wanita yang tergolek di tempat tidur itu? Untung saja teman-temanku tadi tak tahu kalau Mas Rizal adalah suamiku. Keinginanku untuk mengenalkan Mas Agus pada mereka pupus. Aku bahkan hanya diam mematung, sementara Mas Rizal segera berlalu karena tampaknya kondisi perempuan itu agak mengkhawatirkan.

“Kasihan Alin, dia terkena penyakit kanker stadium lanjut. Untung saja suaminya sangat baik dan penuh perhatian,” kata Mama Riana.

“Sst …Jeng, maaf lho, tapi katanya Bu Alin itu istri keduanya Pak Rizal ya…” timpal yang lain.

“Alah Jeng Nana ini, itu kan gossip. Seandainya benar ya biar saja to Jeng…’ kata mama Riana disusul tawa yang lain.

Apa yang terjadi selanjutnya sangat sakit untuk diceritakan. Aku memilih untuk melupakannya. Singkat cerita aku keluar dari rumah yang telah kami tinggali selama tujuh tahun. Tanpa perlu mendengar segala penjelasannya, aku hanya berpikir satu hal : cerai!

Mas Rizal menangis-nangis, memohon-mohon, bersujud di kakiku. Tapi aku sudah terlanjur sakit. Tidak ada badai, tidak ada angin, tidak ada hujan, kenapa bisa begini? Aku tak tahu harus menyalahkan siapa, tak tahu harus marah pada siapa. Mas Rizal ngotot tak mau menceraikanku, tapi juga tak mau menceraikan perempuan itu. Aku tetap memaksa dia untuk minta cerai. Akhirnya aku pergi membawa anak-anak.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan Mas Bram. Mas Bram yang sabar, lembut dan baik. Aku merasa mempunyai teman bicara. Melihat kedekatanku dengan Mas Bram, akhirnya Mas Rizal mengabulkan gugatan ceraiku. Aku puas bisa membalas sakit hatiku padanya.

“Hati-hati, mungkin dia bukan laki-laki yang baik,” itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum meninggalkan ruangan sidang.

Aku mendengus dalam hati, “Setidaknya ia bukan pembohong sepertimu.”

Singkat cerita akhirnya kami menikah. Di awal-awal pernikahan Mas Bram tampak sangat baik padaku, juga baik pada Liana dan Dimas. Bulan kedua, sudah tampak sifat aslinya yang kasar dan mudah mengumpat. Sedikit saja aku melakukan kesalahan, ia akan sangat marah dan ringan tangan. Memang setelahnya ia akan memohon-mohon maaf atas sikapnya yang kasar. Aku coba memahaminya karena kuanggap ini adalah sebuah proses yang harus dilalui. Pernikahan yang baru seumur sebulan memang penuh masa penyesuaian dan kuakui itu tak mudah. Mungkin tak mudah bagi Mas Bram untuk menyesuaikan diri bahwa ia menikah dengan janda yang sudah mempunyai dua anak. Jadi aku memilih mengalah kalau Mas Bram sedang marah.

Yang membuatku sedih adalah sikap Mas Bram yang kasar pada anak-anak. Sekali lagi aku mengalah, walaupun aku selalu merasa tak rela bila anak-anakku sering jadi sasaran kemarahannya.

Kini hidupku berbalik 180 derajat. Bila dulu aku menikmati hari-hari sebagai ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami serta selalu tinggal di rumah, kini aku harus ikut bekerja membanting tulang karena perusahaan Mas Bram sedang pailit akibat kenaikan BBM. Bila dulu dalam mengerjakan urusan rumah tangga aku dibantu oleh seorang prt, kini semuanya harus aku kerjakan sendiri. Jangankan menggaji seorang prt, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja kami kesulitan. Untung uang sekolah masih ditopang oleh gaji Mas Rizal, yang aku ambil setiap awal bulan.

Sebenarnya tak masalah aku harus mengerjakan semuanya sendirian, tak masalah aku setiap hari membuat kue dan menitipkannya di warung-warung. Juga malam-malam aku sibuk menyelesaikan pesanan jahitan. Aku senang melakukan itu semua. Tak mengapa karena kupikir uangnya toh untuk menutupi kebutuhan anak-anak juga. Andai saja Mas Bram bisa bersikap lebih lembut, andai saja Mas Bram bisa lebih mengerti dan memahami. Dan bukannya marah-marah. Dan bukannya malah menghambur-hamburkan uang hasil jerih payahku yang tak seberapa.

Aku sedih karena prestasi anak-anak di sekolah juga turun, mungkin anak-anak ikut terpengaruh kondisi rumah yang kurang harmonis. Aku sudah tak bisa berpikir lagi, karena yang sekarang ada di otakku adalah bagaimana agar setiap detik yang kulakukan dapat menghasilkan rupiah. Tak mungkin mengharap Mas Bram yang semakin tenggelam dalam dunianya. Pulang larut malam dalam keadaan mulut berbau alkohol. Masih lebih baik bila sehari saja ia tak marah, artinya aku terbebas dari pukulan dan tamparan, juga caci makinya yang amat kasar.

Sebenarnya jauh dari lubuk hatiku, aku ingin mengakhiri perkawinan yang sungguh tak sehat ini. Tapi egoku masih terlalu kuat. Aku malu pada Mas Rizal jika harus bercerai untuk yang kedua kalinya.

Aku masih ingat, ketika bertemu di kampus saat mengambil uang anak-anak –yang nota bene adalah gaji Mas Rizal- seperti biasa Mas Rizal mengikuti dari belakang. Mungkin untuk sekedar mengetahui keadaan kami sekarang. Bukannya senang, aku malah merasa semakin tersiksa. Karena biasanya Mas Rizal akan bertanya, "Bagaimana kabar Dimas dan Liana? Apakah mereka sehat-sehat saja? Bagaimana dengan sekolahnya?" Lalu Mas Rizal akan menitipkan sesuatu untuk anak-anak. Meskipun hanya berupa barang sederhana, setidaknya hal itu menunjukkan betapa Mas Rizal masih sangat memperhatikan dan menyayangi anak-anak.

Saat itu, susah payah kusembunyikan pipi yang masih tampak legam biru-biru akibat tamparan Mas Bram malam sebelumnya. Setengah berlari aku menghindar dari tatapannya, tapi sia-sia.

“Kenapa Sri? Apa dia memukulmu?” tanyanya cemas.

Aku berusaha menahan air mata yang hampir keluar dan segera berlari meninggalkannya. Mas Rizal hanya diam dan tak mengejarku. Hatiku semakin sedih. Saat tahu bahwa, Alin, istri kedua Mas Rizal akhirnya meninggal sebulan setelah menjalani operasi yang kesekian kalinya. Kata dokter, kankernya sudah jauh menjalar ke organ-organ vital lainnya. Hatiku diliputi rasa sesal. Tapi, entah kenapa saat itu aku tetap tak bisa menerima sikap Mas Rizal yang diam-diam menikah tanpa sepengetahuanku. Bagiku, Mas Rizal telah menciderai kesetiaan dan kepercayaanku padanya. Dan aku tetap tidak bisa menerima, dengan alasan apa pun jua.

“Alin itu teman SMP Rizal, Sri. Mereka sudah berteman sejak kecil. Beberapa tahun ini Alin sakit-sakitan, dia pernah bilang sama ibu, sebelum meninggal ia ingin menikah dengan seseorang yang sangat dicintainya. Dan orang itu adalah Rizal. Cobalah mengerti, Nduk…” itu adalah kata-kata ibu Mas Rizal, saat aku minta cerai dari anaknya.

“Dulu mereka memang sempat pacaran, mungkin cuma cinta monyet. Maafkan Ibu belum menceritakan hal ini padamu. Ibu hanya ingin mencari saat yang tepat, lha kok malah kamu sudah tahu lebih dulu. Percayalah Masmu itu sangat cinta sama kamu Sri, Ibu paham betul sifatnya…”

Ya, seandainya saat itu aku tak dikuasai emosi. Seandainya saja telingaku lebih bisa mendengar, mataku lebih bisa melihat dan hatiku lebih bisa sabar. Ya, seandainya saja…


*) Diangkat dari kisah nyata, nama dan tempat disamarkan

Tidak ada komentar: